Kopi Galau

ber-kopi bareng masyarakat
Minum kopi atau ngopi, mungkin merupakan satu dari sekian banyak kata kerja dalam kamus bahasa Indonesia. Semua mendefenisikan aktivitas; dari negosiasi tukar pikiran, reuni dengan kawan lama, sampai bincang-bincang formal dikalangan menengah atas. Smua bisa dilakukan dengan ngopi

Ngopi juga tak mengenal status dan strata social di masyarakat kita. Kelas atas, menengah, punya duit bahkan sampai orang paling miskin pun pernah melakukan ritual ngopi. Dari warung kopi kelas atas yang berada di mall-mall gede sampai dipangkalan-pangkalan ojek. Tidak ada diskriminasi soal ngopi semua menikmatinya. 

Klo gw boleh menganologikan aktivitas minum kopi dengan kehidupan gw sehari-hari kayaknya paling pas deh, kadang kaya, kadang miskin sama halnya kadang pahit atau manis sebuah kopi yang terrseduh dari cangkirnya. Cangkir kopi itu adalah otak dan atau perasaanku. 

Seringkali kita menikmati kopi adalah lebih banyak pahit dibanding manisnya, lebih banyak ampas daripada kopinya. Jauh dari keluarga saat bertugas, seminggu doang bersama istri tercinta, harga-harga meroket naik tidak disertai kenaikan gaji, hutan rusak akibat pembalakan liar, banjir dan longsor dimana-mana hingga kualitas kita sebagai bangsa sangat rendah karena pendidikan yang mahal (apa hubungannya). 
Obralan itupun kian hangat dan menjadi keluhan, pandangan, kritik bahkan semangat sebagai anak muda di negara antahbrantah ini. Pro dan kontra tentang pahit manisnya kopi berkecambuk didalam otakku malam ini tanpa aku sadari. 
Tapi akhirnya kopi diatas meja pun habis, aku berlalu, beranjak untuk kembali ke rutinitas sehari-hari. Sebagai seorang suami, penganti almarhum papa atau bahkan sebagai pengabdi di negeri ini. 
….tapi apakah obrolan, pikiran, daya kritis, obsesi dan semangat itu berlalu? Cangkir yang telah dicuci dengan sabun kini hilang membekas di memori otakku? Atau sebuah bukti bahwa aku ada? Aku sering mendengar bahwa langkah pertama dalam penyelesaian suatu masalah adalah dengan mengakui bahwa masalah itu ada. Seorang perokok sepertiku misalnya; akan lebih mudah menanggulangi masalah kecanduan terhadap rokok bila mau mengakui bahwa kebiasaan merokok merupakan sebuah masalah besar, didalam otakku aku sadari itu. Jadi, bila dengan mendiskusikan masalah itu, kita mengetahui bahwa masalah itu ada, kita mudah mengayunkan langkah pertama terhadap penyelesaian tersebut. Lalu bagaimana dengan langkah ke dua, ketiga dan seterusnya? (gw ngomongin apa sih? Trus apa hubungannya dengan kopi?) hahahahaaaa….

Perihal viqar02
Sekedar Pengembaraanku di dunia maya atau mungkin nyata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: