Kebakaran Hutan

Hutan tidak pernah lepas dari berbagai gangguan, baik yang berasal dari manusia maupun dari alam itu sendiri, salah satu bentuk gangguan yang muncul adalah kebakaran hutan. Kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran hutan sangat besar dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini dapat terjadi karena sifat dari kebakaran yang cepat daya rusaknya dan sukar dipadamkan sehingga dalam waktu yang singkat kerusakan dapat mencakup areal yang luas. Sekitar lebih dari 30.000 Ha hutan terbakar setiap tahunnya (PHPA, 1994), kerugian yang terjadi karena kebakaran hutan tidak hanya terbatas dalam bentuk nilai rupiah karena hilangnya atau rusaknya kayu yang merupakan komoditi yang sangat berharga, akan tetapi yang juga sangat penting adalah rusaknya ekosistem yang ada. Selain oleh alam penyebab timbulnya kebakaran hutan pada umumnya berhubungan dengan kegiatan manusia baik disengaja maupun tidak disengaja. Diperkirakan sekitar 90% kebakaran hutan terjadi akibat perbuatan manusia dan 105 oleh alam (Suratmo, 1985).
 
Selain dari kebakaran hutan secara langsung, kerusakan hutan atau tingkat penurunan dari kualitas lingkungan disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kegiatan pembukaan lahan dan hutan dengan cara pembakaran. Sejak zaman dahulu, kegiatan pembukaan lahan hutan untuk pertanian tradisional ataupun ladang berpindah dengan cara membakar sudah sering dilakukan. Dampak dari pembakaran ataupun kebakaran seperti ini umumnya rendah (tidak merugikan) sehingga tidak ada pernah tercatat adanya gangguan ataupun kerugian yang berarti.
 
Kerusakan sumber daya alam yang mencakup tanah, air, udara, tumbuhan dan kehidupan satwa liar sangat besar. Kebakaran hutan dan lahan dapat mengakibatkan berbagai pengaruh buruk terhadap berbagai sumber daya lahan dan ekosistem, dampak kebakaran hutan yaitu dapat menghilangkan karbon pada lahan gambut. Pengembalian ke bentuk semula selain akan membutuhkan waktu yang sangat lama juga tidak akan kembali seperti semula. Kebakaran hutan dapat berakibat positif maupun negative. Kebakaran hutan biasa berakibat positif apabila kebakaran hutan tersebut dapat terkendali, misalkan untuk memanfaatkan abu serasah untuk memupuk tanah garapan, memperoleh tunas atau rumput muda untuk makanan ternak atau untuk mengurangi timbunana bahan bakar di lantai hutan. 
 
Sedangkan kebarakan hutan yang tidak terkendali akan memberikan dampak negative. Dampak negative dari kebakaran hutan antara lain adalah akan mendampak terhadap pohon (penurunan kualitas dan kuantitas pohon), meningkatkan laju erosi tanah, berkurangnya plasma nutfa, merusak habitat satwa, perubahan iklim mikro, menurunkan nilai-nilai estetika dan lain-lain. Intensitas dan frekuensi kebakaran hutan bervariasi daya pengaruhnya, baik pengaruh yang merugikan maupun yang menguntungkan. Setiap daerah memiliki ciri sendiri dan masalah kebakaran tidak hanya bervariasi diantara berbagai kawasan yang berbeda tetapi juga didalam setiap kawasan tertentu menurut keadaan habitat yang berbeda satu dengan yang lainnya. 
 
Perladangan yaitu penggunaan lahan secara illegal untuk usaha tani tanaman semusim, yang dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Pada umumnya melalui rangkaian kegiatan tebang-tebas-bakar-tanam dan pindah ke tempat lain apabila kesuburuan tanah disuatu tempat semula menurun. Ciri khas dari perladangan liar adalah tidak dilakukannya teknik pemeliharaan kesuburan lahan. Kegiatan perladangan tersebut telah berlangsung secara turun temurun yang merupakan tradisi bagi penduduk disekitar hutan dalam bercocok tanam di hutan. Kehidupan para peladang berpindah tersebut pada umumnya masih terbelakang dan miskin, bertempat tinggal di lokasi yang sulit dijangkau dan dalam kelompok-kelompok kecil yang berpindah dan terpencar-pencar. Di wilayah perladangan tersebut dari waktu ke waktu cenderung meluas ke daerah-daerah hulu sungai dan pada kawasan hutan lindung.
 
Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu kegiatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan sangat sulit, karena berbagai kendala alam seperti aksebilitas yang rendah, topografi yang berat dan sulit air
 
 
*viqarchu

Bedah Novel State of Fear-nya Michael Crichton

Apakah sebuah buku yang menyatakan dirinya sebagai karya nonfiksi layak disandingkan, dan ditimbang dengan sama seriusnya dengan karya akademik (yang serius namun popular)? Menyandingkan novel State of Fear karya Michael Crichton dan The Weather Makers buah pemikiran Tim Flannery jelas punya persoalan yang demikian. 


Crichton: Tidak Ada Pemanasan Global! 
Crichton bagaimanapun adalah seorang penulis cerita fiksi, walaupun dalam setiap novel maupun naskah filmnya ia selalu menggunakan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir sebagai dasar cerita. Andromeda Strain meminjam berbagai fakta astronomi, Prey menggunakan berbagai perkembangan teknologi nano, Time Machine dan Sphere memanfaatkan teori relativitas khususnya mengenai perjalanan antarmasa. Namun, sepertinya dalam novelnya yang terakhir ini, ia tidak saja memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk menarik perhatian pembaca. Lebih jauh, ia juga sengaja memilih sebuah tema pengetahuan yang banyak dianggap kontroversial: pemanasan global. Yang paling hebat dari itu semua, dalam novel itu ia menantang konsensus “jumhur” ilmuwan yang meyakini bahwa pemanasan global sebagai akibat antropogenik dari dilepaskannya gas rumah kaca ke atmoser. Dalam upaya menantang konsensus itu, ia bahkan mendiskreditkan organisasi lingkungan yang digambarkannya rela memanipulasi data dan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya untuk membuat sebuah ledakan nuklir yang besar —untuk membuat bencana tsunami— bersamaan dengan konferensi terpenting mengenai pemanasan global. Untuk apa? Agar seluruh dunia percaya bahwa pemanasan global bukanlah teori, melainkan realitas dan dengan demikian maka curahan dana akan terus mengalir kepada organisasi lingkungan. 
Tapi bukankah itu semua merupakan karya fiksi? Sama halnya seperti Da Vinci Code, novel ini mengklaim pendirian yang disampaikan pengarangnya memiliki dasar-dasar kebenaran. Crichton bahkan menggunakan kutipan-kutipan langsung dari berbagai jurnal ilmiah untuk mendukung pendiriannya. Tidak lupa, di bagian belakang novelnya terdapat lampiran yang menjelaskan bagaimana pendiriannya mengenai masalah pemanasan global, dilengkapi dengan bibliografi yang diberi catatan yang dinyatakannya sebagai hasil dari tiga tahun mempelajari sumber-sumber pustaka mengenai pemanasan global. 
Yang menjadi masalah besar adalah bahwa pendirian tersebut telah mempengaruhi banyak sekali orang. Popularitas novel ini benar-benar hebat, dan bagaimanapun akan punya pengaruh besar dalam membuat orang meragukan pemanasan global karena gayanya yang quasi ilmiah. Di Amerika Serikat, novel ini bahkan dipergunakan oleh komisi yang dipimpin oleh Senator James Inhofe dalam upayanya melawan RUU Energi McCain dan Lieberman. Inhofe benar-benar percaya 100% atas kebenaran pendirian Crichton sehingga sang novelis pun dihadirkan dalam dengar pendapat sebagai ahli mengenai palsunya pemanasan global. 
Dengan kualifikasi seperti itu, tentu State of Fear layak dipertimbangkan untuk ditanggapi serius. Pencarian dengan google menghasilkan 799.000 entri —bandingkan dengan karya serius Flannery yang “hanya” menghasilkan 267.000— yang merupakan entri tertinggi dibandingkan sumber manapun tentang pemanasan global. Untungnya, di antara puja dan puji terhadap novel ini, masih banyak pula kritik yang tajam yang ditulis oleh para ilmuwan lingkungan. Gavin Schmidt dari Earth Institute menulis Michael Crichton’s State of Confusion; Alan Miller yang merupakan Principal Environmental Officer di International Finance Corporation menulis Bad Fiction, Worse Science; dua profesor fisika Gregory Benford dari Universitas California at Irvine serta Martin Hoffert dari New York University bersama-sama menulis On Climate Change, Fear of Reason; David Sandalow dari the Brookings Institution membuat Michael Crichton and Global Warming; dan masih banyak lainnya termasuk banyak lembaga ilmiah menyatakan sikap resminya atas novel Crichton. Banyak di antaranya menyatakan ini merupakan kali pertama mereka menanggapi sebuah karya fiksi. 
Di antara hal-hal yang paling penting yang dikomentari adalah bahwa Crichton —dengan sengaja atau karena kebodohannya— telah salah membaca data. Bagaimana mungkin himpunan data yang sama menghasilkan kesimpulan yang berbeda? Empat lembaga paling penting di Amerika Serikat yaitu The National Academy of Sceinces, The American Geophysical Union, The American Meteorological Society dan Intergovernmental Panel on Climate Change—yang disebut belakangan ini menjadi bulan-bulanan Crichton —telah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa perubahan iklim global memang tengah terjadi (lihat www.ucsusa.org). Apakah kemudian orang akan memilih mengikuti novelis yang mengaku telah membaca banyak sekali artikel ilmiah mengenai masalah itu selama tiga tahun? Entahlah, yang jelas Senator Inhofe, serta seluruh pemerintahan George W. Bush tampaknya demikian. Dan ketika penguasa memilih yang demikian, maka dampaknya tentu saja sangat besar. 
Salah satu kesalahan pembacaan itu berkaitan dengan grafik buatan Dr. Jim Hansen yang interpretasinya ia sampaikan di depan Kongres Amerika Serikat di tahun 1988. Crichton menyatakan bahwa “Dr. Hansen overestimated global warming by 300 percent”

Penyataan Dr. Hansen memang merupakan salah satu titik tolak paling penting yang menjadikan pemanasan global sebagai salah satu isu lingkungan terpanas. Namun itu sesungguhnya tidak dikarenakan ia melebih-lebihkan ramalannya hingga 300 persen. Pada paparannya, Dr. Hansen hanya menampilkan Skenario B, dan menyatakannya sebagai skenario yang paling mungkin, dengan asumsi bahwa pada tahun 1995 terjadi letusan gunung yang besar. Kenyataannya Gunung Pinatubo meletus pada tahun 1991 dan Skenario B berhasil meramalkan secara tepat bahwa peningkatan suhu global adalah sekitar 0,11 derajat Celsius/dekade. Gavin Schmidt mencatat bahwa orang yang melontarkan tuduhan kotor pada Dr. Hansen adalah Patrick Michaels yang dalam kesaksiannya di depan Kongres sepuluh tahun setelah Dr. Hansen menghilangkan Skenario B dan C untuk memberikan kesan bahwa model mengenai pemanasan global tidaklah reliabel.

Banyak kesalahan ilmiah lain yang dimunculkan oleh Crichton. Dua cara membantah kaitan antara emisi CO2 dengan peningkatan suhu yang digunakan Crichton adalah dengan menyatakan bahwa (1) terdapat banyak tempat di dunia, termasuk yang kadar CO2nya tinggi yaitu perkotaan, yang mengalami penurunan suhu, dan (2) walaupun tingkat CO2 terus meningkat, namun pada dekade 1940an hingga 1970an sebetulnya terjadi penurunan suhu. Sesungguhnya, siapapun yang pernah sedikit mempelajari masalah klimatologi akan mudah menjawab masalah ini. Para ilmuwan yang menyatakan adanya pemanasan global tidaklah mengklaim bahwa setiap tempat di permukaan Bumi ini mengalami peningkatan suhu yang sama, melainkan secara rata-rata seluruh permukaan itu memang meningkat. Penurunan suhu partikular tidak membatalkan fakta bahwa secara universal suhu memang meningkat. Mereka juga tidak pernah menyatakan bahwa satu-satunya penentu suhu permukaan Bumi adalah kadar CO2 dalam atmosfer. Letusan gunung, variabilitas matahari, emisi sulfur dioksida serta pergeseran orbit bumi —di antara yang lainnya— punya peran dalam menghasilkan suhu permukaan Bumi. Kombinasi faktor-faktor antropogenik dan alamiah memang berperan, dan para ilmuwan tidak berhasil menerangkan apa yang terjadi di sepanjang abad 20 hingga sekarang dengan hanya melihat faktor alamiah saja. Masalahnya, sangat kecil proporsi orang di dunia ini yang pernah terpapar pada pengetahuan dasar klimatologi. Dalam dunia seperti itu, Crichton dengan novelnya bisa punya pengaruh besar.

Flannery: Kelihatannya Kita Sedang Menuju Kiamat, Kecuali… 
Ketika Dr. Bruce Beehler —salah seorang Direktur Conservation International, pemimpin ekspedisi Pegunungan Foja, dan Tim Flannery—d itanya mengenai pendapatnya berkenaan dengan buku  itu, ia mengatakan bahwa mungkin saja beberapa orang akan memutuskan untuk bunuh diri setelah membacanya. Dr. Beehler menyatakannya secara bercanda, namun intinya adalah bahwa buku Flannery itu memang berisi banyak fakta dan interpretasi mengerikan seputar pemanasan global. Dan, intinya, bahwa manusia lah yang menyebabkan itu semua, entah melalui tindakan-tindakan individu yang tidak menyadari konsekuensi dari apa yang dilakukannya atau keputusan-keputusan pemerintah dan bisnis yang sebetulnya punya akses terhadap informasi yang lebih kaya. Yang ia sebut “the Weather Makers” adalah umat manusia yang tindakannya telah menyebabkan perubahan iklim global.

Dalam salah satu tur promosi bukunya, terpampang sebuah poster besar yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, namun iklim kini diciptakan oleh manusia. Kalau novel Crichton dibaca terlebih dahulu, tiga puluh lima bab yang dihadirkan Flannery akan sangat terasa menjadi jawaban atas keraguan yang ditimbulkan setelah membaca novel itu. Lima bagian besar menjadi kerangka untuk bab-bab tersebut, masing-masing Gaia’s Tools; One in Ten Thousand; The Science of Prediction; People in Greenhouses; dan The Solution, yang kemudian diikuti dengan sebuah Postscript; Climate Change Checklist; dan Green Power.

Dalam bagian pertama —sebagaimana diduga oleh siapapun yang akrab dengan hipotesis Gaia ciptaan James Lovelock— Flannery menyatakan bahwa Bumi adalah organisme tunggal yang hidup, dan atmosfer adalah organ tubuh Bumi yang menjalankan fungsi interkoneksi dan regulasi suhu. Mungkin tak banyak hal yang baru di sini, termasuk bahwa tanpa gas-gas rumah kaca sesungguhnya Bumi ini terlalu dingin untuk dapat ditinggali, khususnya oleh manusia.

Bagian kedua menjelaskan banyak sekali contoh bahwa di masa lalupun sesungguhnnya perubahan iklim dalam skala kecil juga telah menyebabkan efek yang dahsyat pada spesies-spesies tertentu, termasuk kepunahannya, misalnya yang ia nyatakan di bab A Warning from the Golden Toad. Secara sangat jenaka, ia memilih bertanya “No home for Santa?” untuk menjelaskan dampak menghilangnya es dari wilayah kutub. Tentu saja, walaupun Santa Clause hanya ada dalam alam khayal (benarkah?), banyak sekali spesies yang kehidupannya sangat tergantung pada keberadaan kutub.

Untuk mereka yang berpikir bahwa prediksi mengenai iklim di masa mendatang tidaklah mungkin—atau sangat sulit—dilakukan, Flannery menyajikan pandangannya pada bagian ketiga. Pemodelan komputer hingga kini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa perubahan iklim yang terjadi di masa lampau dengan tingkat akurasi yang tinggi. Namun, mengapa ketika diterapkan ke masa depan model yang sama gagal memprediksi dengan akurat? Sebagai misal, mengapa prediksi-prediksi yang dibuat antara dekade 1960an dan 1970an ternyata kemudian terbukti tidak tepat. Seakan menjawab Crichton, Flannery menjelaskan bahwa manusia —selain membuang CO2— juga menghasilkan aerosol dan membuangnya ke atmosfer. Di atmosfer aerosol meningkatkan refleksivitas sehingga cukup banyak panas matahari yang terkirim balik. Penjelasan ini kerap diberi nama global dimming dan telah memotong dampak pemanasan global akibat CO2 sebanyak sepertiganya. Bagaimanapun, ramalan yang lebih mutakhir telah memasukkan jauh lebih banyak faktor sehingga reliabilitasnya pun meningkat.

Bagian selanjutnya bercerita mengenai berbagai inisiatif yang telah dijalankan umat manusia untuk mengatasi pemanasan global. Yang paling terkenal tentu saja Protokol Kyoto. Terkenal sebagai upaya kolektif terbesar dan juga terkenal karena penentangan beberapa negara penghasil gas rumah kaca terbesar, di antaranya Amerika Serikat (tentu saja!) dan Australia (negara dari mana Flannery berasal). Flannery memang mengakui bahwa Protokol tersebut memang memiliki sejumlah kelemahan, termasuk di dalamnya target yang keterlaluan rendahnya untuk mengatasi masalah sebesar pemanasan global. Kalau hendak lebih serius, menurut Flannery, maka targetnya seharusnya dibuat dua belas kali lipat dari yang sekarang disetujui. Tentu saja, hal itu akan sangat sulit diterima. Dengan target serendah itu saja beberapa negara di bawah kepemimpinan Amerika Serikat saja sudah menolak untuk mengikatkan diri ke dalamnya.

Penolakan atas Protokol tersebut dijelaskan sebagai akibat dari ketakutan berlebih dari perusahaan-perusahaan multinasional atas dampak pemberlakuannya. Dave Munger, mengomentari positif buku Flannery dalam Undeniable Evidence di www.esposito.typepad.com, menyatakan bahwa Amerika Serikat sama sekali tidak pernah melakukan kajian yang serius mengenai apakah benar pertumbuhan ekonomi akan menanggung surut yang luar biasa besar kalau Amerika Serikat ikut serta dalam Protokol tersebut. Munger mencatat bahwa Pemerintahan Bill Clinton menghitung beban ekonomi sebesar 1 milyar dolar pertahun, sementara Departemen Energi mereka sendiri menyatakan bebannya adalah 378 milyar dolar untuk kurun waktu yang sama. Padahal, ada banyak contoh dari Flannery di mana pengurangan gas rumah kaca dari produksi malahan menghasilkan keuntungan ekonomi, seperti pada kasus Nortel yang setelah mengikuti Protokol Montreal mengeluarkan investasi 1 juta dolar untuk peralatan baru, dan akhirnya berhemat 4 juta dolar karena biaya untuk pengolahan limbah dan pembelian CFC yang turun drastis.

Flannery juga membahas mengenai Contraction and Corvergence, sebuah inisiatif yang didasarkan pada kepecayaan bahwa seharusnya setiap orang memiliki hak yang sama untuk membuang emisi, dan karenanya mereka yang membuah lebih banyak harus membeli hak emisi tersebut dari mereka yang masih memiliki sisa hak itu. Namun, sama dengan Protokol Kyoto, inisiatif tersebut juga sangat mungkin terganjal oleh kepentingan ekonomi: “Among its potential downsides is the initial cost to industrialized countries.

Resep untuk keluar dari kondisi yang mengerikan ini utamanya adalah dengan jalan mengubah bagaimana listrik diproduksi. Hingga kini, pembangkit listrik yang menggunakan batu bara bertanggung jawab atas sedikitnya dua pertiga emisi CO2. Karenanya, tidak mengherankan pula kalau industri batu bara lah yang paling keras mempengaruhi pemerintah Amerika Serikat untuk tidak ikut Protokol Kyoto —misalnya dengan mendonasikan 41 juta dolar lewat jalur resmi saja ke kampanye kedua Bush. Energi alternatif dari angin dan matahari sangat penting untuk ditingkatkan penggunaannya kalau emisi CO2 hendak dikurangi secara drastis. Penggunaan energi nuklir juga didiskusikan Flannery, di mana ia tampak menerima dengan hati-hati karena masalah keamanan dan pembuangan limbahnya. Di tingkat individu ia menuliskan bab Over to You yang membahas bagaimana setiap orang dapat berkontribusi.

Secara keseluruhan cerita mengenai pemanasan global yang ada dalam buku ini membuat siapapun yang membacanya merasa menguasai masalah ini dengan instan (tidak perlu membaca tumpukan jurnal selama tiga tahun, sebagaimana yang dilakukan Crichton!). Pembacanya juga akan terinspirasi untuk mengurangi “kejahatan karbon” dengan melakukan banyak hal yang dipreskripsikannya. Kelebihan lainnya, pilihan kata-kata Flannery sangat indah dan persuasif, sehingga pembaca tidak terasa sedang berhadapan dengan teks ilmiah yang serius. Seorang penimbang buku ini yang anonim (lihat www.epinions.com) dengan tepat menggambarkan bahwa Flannery adalah “passionately proselytizing prophet provides poetic predictions.” Kalau ada yang mengganggu dari karya Flannery ini, ia tampaknya belum berhasil untuk membuat sebuah peta jalan yang benar-benar dapat dilaksanakan untuk mengurangi kebebalan dunia industri dan pemerintah negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat. Kalau penghasil sebagian besar emisi tidak dapat dibujuk atau ditekuk, adakah harapan bagi umat manusia? Itulah mungkin mengapa Dr. Beehler menyatakan bahwa buku ini mungkin mendorong orang untuk bunuh diri.

Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan: Sayangnya Memang Tak Selalu Beriring 
Setelah membaca kedua buku, pertanyaan yang menarik untuk diajukan adalah apakah ilmu pengetahuan memang entitas yang reliabel sebagai sahabat lingkungan. Hal ini dalam berbagai literatur sosiologi lingkungan merupakan subjek kajian yang tak henti-hentinya menimbulkan perdebatan. Kiranya, kita dapat menarik manfaat dari perdebatan kubu Steven Yearley serta Luke Martell dalam masalah ini.

Yearley merupakan ilmuwan yang berpendirian bahwa ilmu pengetahuan bukanlah sahabat yang cukup dan bisa diandalkan oleh lingkungan. Dalam karya terkenalnya The Green Case (pertama kali terbit 1991), ia menyatakan lima butir argumen untuk mendukung kesimpulannya.

Argumen pertama adalah bahwa hampir seluruh permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat modern merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penggunaan pestisida, CFC, energi nuklir, pertambangan mineral dan sebagainya merupakan hasil interaksi antara kebutuhan manusia dan rekomendasi ilmu pengetahuan untuk memenuhinya. Pada awalnya memang tampak bahwa rekomendasi itu merupakan jalan keluar yang memadai, namun belakangan ditemukan bahwa jalan keluar itu ternyata juga merupakan jalan masuk dari berbagai masalah yang tak pernah diduga sebelumnya. Pestisida misalnya, hampir-hampir diganjar Hadiah Nobel sebelum akhirnya malahan buku Rachel Carson Silent Spring meratapi dampak negatifnya.

Argumen kedua adalah bahwa rombongan ilmuwan yang berada dalam kubu industri jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memilih untuk berada dalam kubu gerakan lingkungan. Hal ini seakan membuktikan bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan modern pada dasarnya memiliki pandangan yang eksploitatif terhadap lingkungan, sekaligus memiliki sikap instrumental yang hanya melayani kepentingan itu.

Argumen ketiga menyatakan bahwa ilmu pengetahuan kerap kali dikemudian hari terbukti tidak benar dan atau tidak lengkap, sehingga ilmuwan pencetusnya atau ilmuwan lain kerap kali harus menarik kembali kesimpulan yang sudah dikeluarkan sebelumnya, atau bahkan tidak dapat mengambil sikap sama sekali dalam suatu kasus. Menurut Yearley, sangatlah sering ilmuwan tidak dapat bersikap ketika sumberdaya yang dikuasainya terbatas, informasinya kurang, ataupun karena kompleksitas dan tak teramatinya fenomena lingkungan.

Argumen keempat menyatakan bahwa para ilmuwan juga sering berselisih pendapat atas interpretasi yang bersumber pada data yang sama. Hal ini diperparah dengan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan tidaklah dapat membuat klaim epistemologi mengenai kepastian. Terakhir, ilmu pengetahuan saja tidak pernah cukup untuk membuat keputusan mengenai tindakan konservasi atau rehabilitasi lingkungan, melainkan harus juga melibatkan pertimbangan moral dan juga politik praktis.

Menanggapi butir-butir argumen itu, Martell dalam Ecology and Society (terbit 1994) melihat adanya tiga hal yang membuatnya keberatan dengan kesimpulan Yearley. Pertama adalah bahwa ilmu pengetahuan jugalah yang menemukan seluruh permasalahan lingkungan yang sekarang kita kenal. Penipisan ozon, perubahan iklim global, hujan asam, menyusutnya keanekaragaman hayati dan sebagainya merupakan temuan ilmiah. Jadi, walaupun ilmu pengetahuan tidaklah bisa dianggap memadai, namun hanya lewat ilmu pengetahuanlah permasalahan lingkungan dapat diketahui. Kedua, Martell mengakui bahwa ilmu pengetahuan modern memang terlalu banyak melayani kepentingan industri, terutama untuk prioritas keuntungan ekonomi. Namun demikian, yang sebenarnya menjadi masalah adalah struktur pasar serta struktur politik modern yang mendukunganya, bukan sifat dasar dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Tunduknya ilmu pengetahuan sekarang terhadap rasionalitas ekonomi merupakan hal yang dapat dipilih, dan bukan sebuah kepastian. Karakteristik dasar dari ilmu pengetahuan seperti pengukuran, prediksi maupun kontrol teknis sesungguhnya dapat dipergunakan untuk kepentingan konservasi dan rehabilitasi lingkungan. Dalam hal ini, kontrol teknis merupakan subjek dari prioritas ekonomi dan keputusan politik. Kalau saja ekonomi dan politik dominan berpihak pada kelestarian lingkungan, maka hasil ilmu pengetahuan bisa berbeda sama sekali dengan wajah dominannya sekarang.

Dari keduanya, kesimpulan terakhir dari Martell adalah bahwa ilmu pengetahuan bukanlah musuh alami dari lingkungan. Sebaliknya, ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan untuk mendefinisikan masalah lingkungan serta mencari jalan keluarnya. Karenanya upaya-upaya yang hendak menciptakan genre ilmu pengetahuan yang baru, seperti yang banyak diupayakan oleh kalangan ilmuwan tertentu, sesungguhnya tidaklah diperlukan karena ilmu pengetahuan yang ada sekarang sudah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelaan terhadap lingkungan. Melihat kedua kubu itu, kita dapat menyatakan bahwa ilmu pengetahuan memang memiliki hubungan yang ambigu dengan lingkungan. Yang jelas, memang terdapat peluang penggunaan ilmu pengetahuan untuk kepentingan pelestarian lingkungan dan sudah seharusnya pula para ilmuwan yang pro lingkungan mengupayakan diri untuk menjadi komplemen bagi seluruh entitas yang memiliki tujuan yang sama.

Para Ideolog Gedung Putih sebagai Pangkal Kerumitan 
James Gustave Speth, Dekan School of Forestry and Environmental Studies Universitas Yale, pernah menanyakan “...why American conservatives do not more actively conserve…” dalam bukunya Red Sky at Morning. Banyak ilmuwan lain malahan sudah memiliki jawaban yang pasti bahwa harapan agar pemerintah Amerika Serikat di bawah Bush menjadi lebih baik dalam hal pengelolaan lingkungan adalah harapan yang kosong.

Pertanyaan mengenai kaitan antara Pemerintah Amerika Serikat dengan lingkungan memang telah menjadi pertanyaan klasik. MacDonald dalam Environment: Evolution of a Concept (2003) bahkan menyatakan bahwa perubahan pemahaman mengenai lingkungan sejak Perang Dunia II memang sangat ditentukan oleh dinamika politik Gedung Putih. Menurutnya, apakah “green house effect” akan menjadi isu yang diterima banyak kalangan tergantung dari “White House effect” terhadap masalah itu.

Akhir tahun lalu di Buenos Aires, Pemerintah Amerika Serikat kembali mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengubah pendekatannya mengenai perubahan iklim. Kengototan itu bahkan ditambahi dengan pernyataan bahwa Protokol Kyoto tidaklah didukung oleh fakta ilmiah mengenai pemanasan global, melainkan lebih didasarkan pada politik (persis suara Crichton, bukan?). Beberapa alasan lain dikemukakan oleh Pemerintahan Bush, seperti bahwa mereka juga telah menginvestasikan milyaran dolar untuk mengembangkan teknologi baru yang mengurangi emisi, selain mendesakkan pemikiran bahwa negara-negara berkembang seharusnya tidak diistimewakan dalam Protokol tersebut. Namun, apapun yang dikatakan oleh Pemerintahan Bush sebagai alasan, berbagai bukti ilmiah sesungguhnya telah diproduksi dan dipergunakan sangat baik oleh para pendukung Protokol Kyoto. Yang paling mengherankan, bukti-bukti ilmiah itu sebagian besar diproduksi oleh para ilmuwan Amerika Serikat, termasuk empat lembaga besar yang disebutkan di atas.

Masalahnya, sebagaimana yang diakui oleh Speth, Pemerintahan Bush dan beberapa di antara pendahulunya kerap memilih untuk mempercayai —lebih tepat: menggunakan dan menyebarkan—informasi yang membuat mereka nyaman saja. Sehingga, walaupun seluruh peneliti lingkungan yang paling kredibel sekalipun menyatakan bahwa pemanasan global dan berbagai permasalahan lingkungan lain memang terjadi, pemerintahan Bush tetap saja bergeming dan berlindung di balik segelintir saja pernyataan ilmuwan yang memberi perasaan nyaman. Bjorn Lomborg dan Thomas Homer-Dixon adalah dua yang paling penting di antara pemberi rasa nyaman itu.

Lomborg menulis The Skeptical Environmentalist pada 2001, seorang ahli statistika dari Denmark, dengan berani mendeklarasikan bahwa sesungguhnya keadaan dunia ini jauh lebih baik dibandingkan apa yang selama ini kerap dikemukakan oleh kebanyakan ahli lingkungan. Juga, alih-alih memburuk, secara rataan kondisi Bumi malahan menunjukkan perbaikan yang menggembirakan. Dalam setiap bab bukunya yang dipenuhi angka dan grafik ia menantang seluruh ramalan buruk yang selama ini mendominasi pembicaraan mengenai lingkungan. Karena kandungan data yang memukau serta analisisnya, Lomborg dengan cepat menarik minat banyak pihak, terutama mereka yang selama ini dianggap berkontribusi besar pada perusakan lingkungan, tidak terkecuali Pemerintahan Bush. Lomborg pula, sebagaimana yang diakui oleh Crichton, adalah pemberi inspirasi utama State of Fear.

Yang mungkin tidak dibaca oleh para pembantu Bush adalah bahwa buku tersebut belakangan menuai banyak sekali kritikan. Karena pendekatan statistiknya, maka Lomborg sangat tidak sensitif terhadap hal-hal lain yang sesungguhnya sangat penting. Dalam masalah air misalnya, pernyataan Lomborg bahwa “…basically we have enough water” sesungguhnya sangat membahayakan. Memang secara global jumlah air yang tersedia masih sangat mencukupi, namun kalau kemudian ditimbang dengan fakta bahwa disparitas dalam sediaan air antarwilayah adalah sangat besar, maka masalah air bersih bukanlah isapan jempol. Peter Gleick (lihat Is the Skeptic All Wet?, 2002), pakar terkemuka mengenai air, menulis bahwa ratusan juta warga Cina dan India mengalami masalah sediaan air bersih, dan ini tidak ada kaitannya dengan sediaan air bersih global. Lomborg yang merasa nyaman menyatakan bahwa ’hanya’ tujuh spesies burung yang punah selama hutan Puerto Rico diteliti sejak puluhan tahun lampau, jelas tidak memiliki pemahaman sebaik Douglas Kysar dalam Some Realism about Environmental Skepticism (2003) bahwa tujuh spesies itu tidak dapat ditemukan di bagian dunia lain.

Homer-Dixon adalah ilmuwan politik asal Kanada, namun bisa duduk bertahun-tahun menjadi penasehat lingkungan Gedung Putih. Bukan karena apa-apa, namun karena pemikirannya pengenai konflik atas lingkungan sangatlah membuat Gedung Putih dengan nyaman dapat meneruskan kebijakan-kebijakannya mengenai investasi industri ekstraktif di negara-negara berkembang.

Betapa tidak? Homer-Dixon (Environment, Scarcity and Conflict, 1999) menunjuk bahwa biang seluruh permasalahan lingkungan adalah kelangkaan sumberdaya alam yang terbarukan dan yang menjadi penyebab utama kelangkaan itu adalah pertumbuhan penduduk yang cepat. Hal inilah yang menurut Homer-Dixon menjadi penjelas mengapa konflik atas lingkungan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang yang memiliki angka pertumbuhan penduduk yang tinggi, dan jarang terjadi di negara-negara maju yang pertumbuhannya rendah, nol atau bahkan negatif. Lebih lanjut, ia juga menyatakan bahwa untuk mengatasi kelangkaan, sesungguhnya diperlukan ide-ide yang brilian dan sayangnya ide-ide seperti itu tidak dimiliki oleh negara-negara berkembang, dan karenanya negara-negara maju memiliki ‘beban’—dikenal sebagai white men’s burden —untuk mengajari mereka. Negara-negara maju, menurut Homer-Dixon, bersih dari dosa atas lingkungan. 

Pada kenyataannya, sejumlah besar penelitian telah membuktikan bahwa konflik juga sering disebabkan oleh perebutan atas sumberdaya alam tak terbarukan seperti mineral dan migas. Philipe Le Billon dalam The Political Ecology of War (2001) menemukan bahwa sumberdaya tak terbarukan bukan saja membiayai konflik, namun juga memotivasi konflik bahkan menentukan pembentukan strategi penguasaan atasnya oleh banyak pihak termasuk entitas bisnis dan pemerintah asing.

 Nancy Peluso dan Michael Watts dalam Violent Environments (2001) membantah pernyataan bahwa pertumbuhan penduduklah yang menyebabkan kelangkaan sumberdaya alam. Kelangkaan, menurut mereka, jauh lebih dekat hubungannya dengan konsumsi perkapita penduduk. Dalam hal ini, tentu saja diketahui bahwa konsumsi perkapita penduduk negara-negara maju jauh lebih besar dibandingkan konsumsi mereka yang tinggal di negara-negara berkembang. Melalui mekanisme pasar, penduduk negara-negara maju mengkonsumsi sumberdaya negara-negara berkembang.

Dengan tingkat konsumsi yang demikian, penduduk negara-negara maju juga menghasilkan sampah—termasuk emisi gas rumah kaca—yang jauh lebih besar dibandingkan mereka yang tinggal di negara berkembang. Amerika Serikat kini menghasilkan emisi gas rumah kaca tiga kali lipat dibandingkan mereka yang tinggal di Eropa dan lebih dari seratus kali lipat dibandingkan mereka yang tinggal di negara-negara berkembang. Stuart Hart pernah menyatakan bahwa kalau seluruh penduduk Bumi ini tingkat konsumsinya sama dengan rataan warga Amerika Serikat, maka diperlukan tiga Bumi untuk memenuhinya!

Tentang keharusan negara-negara maju mengajari bagaimana negara-negara berkembang mengatasi kelangkaan sumberdaya alam, para analis pascakolonial kerap menyatakan bahwa hal itu adalah akal-akalan saja untuk menguasai sumberdaya alam itu. Akal-akalan atau tidak, yang jelas proses pengajaran itu memang membuka banyak peluang yang menguntungkan para ‘pengajar.’ Sesungguhnya, moda berpikir Lomborg dan Homer-Dixon—yang semakin dilambungkan kepopularannya oleh Crichton—selain membahayakan nasib Bumi, pada gilirannya juga membahayakan seluruh kepentingan bisnis Amerika Serikat di negara-negara berkembang. Kini tidak ada pilihan selain memperhatikan lingkungan dalam berbisnis, sebagaimana yang telah disadari dunia bisnis melalui beragam inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menjadi tujuan investasi Amerika Serikat di sektor ekstraktif haruslah bersikap tegas dalam hal ini.

 ****
Perang pemikiran, kalau boleh dikatakan demikian, ala Crichton, dkk. versus Flannery, dkk. sesungguhnya hanya lapisan terluar saja dari permasalahan ekologi politik perebutan sumberdaya alam. Crichton adalah penabuh genderang perang, Bush adalah salah satu jenderalnya. Mungkin banyak pihak akan ngeri kalau menyadari bahwa di sisi yang lain, cukup banyak pula penabuh genderang, seperti Flannery, tapi sang jenderal belum juga tampak.

Untuk apa ada Taman Nasional?

Jauh sebelum masa kolonial, rakyat Indonesia telah mengenal konsep perlindungan bagi daerah-daerah hutan sebagai bagian dari budaya spiritual yang berlandaskan pada kepercayaan animisme. Istilah pohon keramat, hutan angker, dan hutan keramat merupakan peninggalan budaya masa lalu yang memiliki implikasi pada perlindungan hutan dan pohon tertentu. Berbagai hubungan antara manusia dengan alam atau komponen-komponen alam yang berkembang di masyarakat pada saat itu dilandaskan pada spiritualisme dan keyakinan bahwa berbagai komponen ekosistem merupakan bagian dari alam di mana tangan Tuhan bekerja untuk memberikan kerberkahan dan hukuman bagi manusia. Keyakinan tersebut, dalam berbagai hal juga mengatur pola hubungan manusia dengan alam dan cenderung menempatkan alam di atas manusia. Pada masa berkembangnya kerajaan Hindu, hubungan manusia dengan alam bergeser—walaupun alam masih diakui sebagai sumber kekuatan spiritiual—manusia harus mampu menaklukan. Bagi mereka yang berhasil menundukkan alam dan spirit yang ada didalamnya akan dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dan berhak untuk menguasainya. Setiap orang diharapkan untuk membudidayakan alam untuk mendapatkan nilai dan manfaat yang lebih tinggi. Pada masa itu, penguasaan khusus atas sumberdaya alam dimiliki oleh raja yang dipercaya sebagai titisan Dewa. 

Pada masa kolonial, gerakan perlindungan hutan yang didasarkan atas fakta ilmiah pada saat itu mencuat melalui ide perlindungan atas bencana alam seperti banjir dan longsor. Perlindungan di hutan-hutan yang dikuasai masyarakat asli pada waktu itu juga diakomodasikan oleh pemerintah kolonial dan melahirkan berbagai konsep mengenai hutan larangan atau hutan marga di beberapa wilayah di Indonesia. Pada awal Abad 19, gerakan pelestarian alam secara ilmiah berkembang dengan mengedepankan pentingnya ekosistem hutan tropis sebagai sumber pengetahuan baru dan perlunya suaka untuk kepentingan generasi mendatang. Bersamaan dengan itu, tumbuh gerakan romantisme para pencinta alam yang mengedepankan pentingnya perlindungan alam untuk kepentingan rekreasi, perbaikan moral, dan sumber inspirasi. Para ilmuwan dan penggerak romantisme pada saat itu memandang bahwa suaka alam harus dalam keadaan perawan dan mengingat kerentanan sifatnya penting untuk dilindungi dari berbagai gangguan. Para penggerak romantisme, yang umumnya punya latar belakang akademis yang kuat, tergabung dalam organisasi nonpemerintah (sekarang: LSM) yang secara aktif melobi pembangunan suaka alam di berbagai negara, termasuk Indonesia (Arnscheidt 2009).
Ide tentang taman nasional di Indonesia berkembang sebagai bagian dari wacana perlindungan hutan dan pelestarian alam yang mencuat ke permukaan bersamaan dengan isu lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Rencana Konservasi Nasional Indonesia (National Conservation Plan for Indonesia) yang dibuat pada tahun 1981 melalui bantuan FAO/UNEP mendorong taman nasional sebagai pilihan strategis Indonesia dalam percaturan konservasi dunia. Pemerintah Orde Baru pada saat itu meyakini bahwa taman nasional merupakan struktur dari sebuah negara maju dan kemungkinan dapat menghasilkan devisa melalui pariwisata. Secara politis, keyakinan tersebut memudahkan dukungan bagi pembangunan taman nasional. Pada tahun 1980 Indonesia menetapkan 5 Taman Nasional pertamanya, yaitu (Robinson dan Sumardja 1990; Arnscheidt 2009): TN Gunung Gede Pangrango, TN Gunung Leuser, TN Baluran, TN Ujung Kulon dan TN Komodo, yang dideklarasikan kepada dunia internasional di Kongres Taman Nasional Sedunia ke-3 di Bali. Saat ini, Indonesia telah memiliki 50 taman nasional, mencakup areal seluas 16,38 juta ha dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan luas tersebut, seluruh taman nasional hanya mewakili 8,5% dari luas daratan atau 3,2% dari luas wilayah Indonesia. Dalam definisi normatifnya taman nasional adalah KPA mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budi daya, pariwisata, dan rekreasi. Dalam konteks ini yang dimaksud KPA adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik daratan maupun perairan yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Sistem kawasan konservasi pada hakikatnya merupakan upaya masif untuk mempertahankan keseimbangan—ekosistem, manusia dan bahkan iklim pada skala global—dan pada skala yang lebih mikro, mempertahankan keseimbangan antara berbagai bentuk permintaan dan tekanan yang terus menggerogoti kualitas ekosistem alam. Kawasan konservasi yang dikelola negara, komunitas asli, atau bahkan kawasan konservasi swasta, yang dikelola oleh institusi tertentu, baik secara kolaboratif atau tidak, merupakan sistem yang efektif guna menghadapi tekanan pembangunan yang akselerasinya cenderung terus meningkat dan mengancam keseimbangan alam. Pengakuan atas nilai penting suatu kawasan konservasi pada tingkat lokal, nasional dan internasional seringkali merupakan cara yang efektif agar kawasan dilindungi tersebut menjadi areal yang efektif bagi pencapaian tujuan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Terdapatnya sistem legal atau kerangka kerja konservasi yang diwujudkan dalam rencana pengelolaan, struktur tata kelola dan tata kepemerintahan yang baik, di dukung dengan kapasitas pengelolaan dan kompetensi profesional sumber daya manusia, telah disepakati menjadi prasyarat penting bagi pengelolaan kawasan konservasi. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi, seperti taman nasional, memiliki nilai yang sangat berharga bagi kehidupan manusia ditinjau dari berbagai perspektif, antara lain (Dudley, Hockingdan Stolton 2010):
  1. Perlindungan atas nilai keunikan: manfaat yang dimiliki oleh suatu ekosistem atau lanskap/seaskap tidak dapat digantikan (misalkan beberapa aspek mengenai keanekaragaman hayati, kekeramatan terkait ciri atau tradisi tertentu, penghargaan pada lansekap).
  2. Solusi yang efektif biaya: manfaat yang disuplai oleh kawasan konservasi sangat efektif biaya, secara mudah atau efisien dengan memelihara ekosisistem alam (misalnya: air bersih dari hutan, penyimpanan karbon dalam gambut dan habitat lain, perlindungan pantai melalui ekosistem mangrove).
  3. Perlindungan sebagai kebijakan penjamin (insurance policy): manfaat yang terpenting untuk subsistensi anggota masyarakat termiskin dapat dipertahankan di dalam kawasan konservasi an dimanfaatkan secara lestari (misalkan: tumbuhan obat, satwa buru, ikan, buah-buahan, bahan pangan lain, bahan bangunan dan kayu bakar).
  4. Konservasi potensi genetik: banyak spesies binatang dan tumbuhan yang saat ini hanya ditemukan dan beradaptasi terhadap berbagai perubahan lingkungan di dalam kawasan konservasi. Mekanisme ini merupakan perlindungan sumber daya genetik secara insitu terpenting yang dikenal manusia. Bagaimana pun juga, banyak bagian bumi yang belum disentuh atau dinilai oleh ilmu pengetahuan, termasuk spesies yang mungkin memiliki nilai tinggi pada masa depan (misalnya: materi genetik untuk pemuliaan tanaman dan penelitian bidang obatobatan).
  5. Solusi jitu: manfaat yang tidak unik terkait dengan kawasan konservasi dapat digantikan oleh lingkungan lain, namun pilihan termudah ditawarkan oleh kawasan konservasi (misalnya: polinasi tanaman budidaya, penggunaan untuk fisioterapi, dan sebagainya).
  6. Penopang sistem penyangga kehidupan: kualitas tata lingkungan di suatu wilayah yang memiliki kawasan konservasi ditopang secara signifikan oleh eksistensi kawasan konservasi tersebut dari berbagai perspektif ilmu pengetahuan (misalnya: tata air, siklus pemurnian oksigen, dan pemeliharaan iklim mikro).
Nilai-nilai ilmiah sebuah ekosistem alam seharusnya membuka mata semua orang mengenai betapa pentingnya taman nasional bagi manusia dan kemanusiaan, bagi bangsa Indonesia dan dunia global, namun sudut semacam ini seringkali dipertentangkan dengan sudut pandang masyarakat lokal yang berbeda. Bagi masyarakat lokal, nilai-nilai penting sebuah taman nasional belum mampu menjawab secara jitu kebutuhan hidup mereka, mereka seringkali “terpaksa” mengorbankan hak tenurial dan akses terhadap sumber daya alam di sekitarnya demi sebuah nilai maya yang tidak begitu mudah untuk dimengerti, bahkan andaikan ada, manfaat nyata yang mereka rasakan masih terbatas pada pemenuhan kehidupan sehari-hari. Kemegahan sebuah taman nasional di mata dunia, seringkali mengabaikan fakta bahwa di dalamnya masyarakat lokal bergumul dengan kekumuhan dan kesulitan penghidupan yang tidak mudah dipecahkan, bahkan oleh seorang pakar berkaliber dunia sekalipun. Meningkatnya akses terhadap informasi digital dan banyaknya tawaran untuk bergaya hidup konsumtif, seringkali menjerumuskan masyarakat lokal pada pilihan sulit antara bertahan pada pola subsisten atau mengeksploitasi sumber daya alam untuk menghasilkan uang tunai. Banyak di antara mereka yang akhirnya meninggalkan pola hidup subsistennya dan menggantinya dengan pola yang lebih berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam tanpa menghiraukan lagi kearifan lokal yang selama ini diajarkan para leluhurnya atau melemparkan diri keluar dari kampung untuk bekerja sebagai buruh/pekerja. Tak ada satu pun taman nasional di Indonesia yang benar-benar terbebas dari konflik semacam itu, sementara itu praktik-praktik pengelolaan taman nasional selama ini terbukti gagal untuk menyelesaikan masalah yang sama dari waktu ke waktu. 
Hingga saat ini, taman nasional di Indonesia masih belum mampu menunjukkan kinerja optimumnya sesuai mandat legal yang dibebankan kepadanya, di samping itu belum juga mampu membuktikan bahwa ia mampu memenuhi harapan bagi peningkatan kualitas penghidupan masyarakat lokal di dalam dan sekitarnya. Wajah garang yang ditampilkannya sesungguhnya terbelenggu masalah internal dan eksternal yang berulang setiap waktu, seolah menyerah pada realitas dan dinamika sosial-politik-ekonomi yang jarang berpihak kepadanya. Dari sudut pandang manajemen, masalah pokok yang dihadapi adalah kebijakan perintah-kendali yang salah kaprah, sesat pikir mengenai makna organisasi pengelola dan rendahnya kapasitas pengelolaan, serta karut-marut tata kepemerintahan (governance) yang tidak berpihak pada kelestarian sebagian kecil wajah asli Indonesia tersebut.
Taman nasional adalah ide ilmiah, yang menempatkan keberpihakan atas kepentingan umat manusia secara lintas generasi, bahkan sebagian besar konstituen riil taman nasional mungkin belum lahir saat ini. Ketika ide tersebut ditempatkan pada ruang di mana masyarakat lokal telah memiliki hak-hak adat atas sumber daya alam dan pranata sosial yang telah mapan, patutlah dihargai agar apa yang mereka korbankan untuk kepentingan umat manusia tersebut mendapatkan balasan yang setimpal dan mampu mengangkat derajat mereka di pentas yang lebih bermartabat. Bukan karena belas kasihan, namun karena keberdayaan. 
Kontestasi kekuatan yang tidak sehat dalam berbagai bidang di negeri tercinta ini, de facto tak berpihak pada kelestarian alam, berbagai ekosistem alam di luar kawasan konservasi dilalap habis dari waktu ke waktu untuk memenuhi kepentingan para pihak. Tak ada belas kasihan, ekosistem alam di dalam kawasan taman nasional pun tercabik-cabik untuk memuaskan berbagai kepentingan. Keseriusan dan konsistensi peran pemerintah dan kesabaran untuk selalu menegosiasikan kelestarian sumber daya alam di taman nasional dengan senantiasa mengedepankan masyarakat lokal sebagai bagian dari pelaku utama pengelolaan sangat dibutuhkan saat ini.
Mungkin pada waktunya nanti—2 hingga 3 dekade mendatang—bangsa Indonesia baru akan mengerti dan menyadari bahwa seluruh ekosistem alam yang tersisa pada saat itu adalah wajah asli negeri tercinta yang dikaruniakan Tuhan dan tak ternilai harganya, serta yang selamat dari kontestasi kekuatan manusia Indonesia. Pada saat itu, di tengah bumi yang tua renta, wajah taman nasional yang tersisa akan nampak cantik di pandang dari segala sisi manusia dan kemanusian.
Sejarah selama kurang lebih 140 tahun di Amerika Serikat menunjukkan bahwa upaya mempertahankan ide tentang taman nasional yang ditegakkan melalui mekanisme “legal” dan tanpa mengabaikan hak-hak masyarakat asli, mengalami pasang surut akibat negosiasi dan tekanan internal maupun eksternal, sebagai bagian dari dinamika sosial-ekonomi-politik dan kepentingan pembangunan. Kesepakatan para ilmuwan bahwa taman nasional adalah vignet Amerika primitif, persepsi publik bahwa taman nasional adalah negeri ajaib (wonderland) dan kegigihan pemerintah untuk mempertahankan ide taman publik, menyebabkan taman nasional, seperti Yellowstone bertahan hingga kini, walaupun tidak sempurna, sebagaimana kondisi yang diharapkan pada awal penetapannya. Waktu akan menjadi saksi, apakah pengelolaan taman nasional di Indonesia mampu memenuhi harapan para pihak? Apakah para pemimpin negeri ini mampu mengubah kerangka pikir, melakukan aksi korektif atas kegagalan yang sudah nampak di depan mata?? Entahlah… :(
_______________________________
Sumber  : 
  • Buku Pengelolaan Kolaboratif Taman Nasional di Indonesia – JICA
  • Buku Membangun Hutan Desa – FordFoundation
  • The Journal publishes eight issues annually  – Society of American Forest
  • Jurnal Implementasi Manajemen Kolaboratif dalam Pengelolaan Ekowisata Berbasis Masyarakat – IPB
  • Proseding Workshop Pengelolaan Kolaboratif Taman Nasional – WWF

PEMBINAAN HABITAT SATWA LIAR DI KAWASAN KONSERVASI

Kelelawar di kaki Gunung Sakora

PEMBINAAN HABITAT SATWA LIAR DI KAWASAN KONSERVASI


 Disampaikan pada on the job training pengelolaan kawasan konservasi bagi staf fungsional Balai Taman Nasional Bukit Duabelas, tanggal 26 – 30 Juli 2010 Oleh : Kepala Balai KSDA Jambi



PENDAHULUAN 

(1) Kawasan konservasi sebagai kawasan yang di dalamnya terkandung berbagai hidupan liar, dan ekosistemnya berperan sebagai penyangga kehidupan dengan potensi keanekaragaman hayati yang tidak ternilai. 
(2) Potensi keanekaragaman hayati dan kawasan merupakan kebanggaan nasional sebagai kekayaan yang harus dijaga keberadaan dan kelestariannya sebagai tanggung jawab seluruh komponen bangsa (pemerintah bersama masyarakat secara luas) maupun komunitas global (dunia internasional).
(3) Potensi keanekaragaman hayati : Indonesia dengan luas daratan yang hanya sekitar 1,3 % dari keseluruhan permukaan bumi. Kaya akan berbagai species hidupan liar dan berbagai tipe ekosistem, dengan tingkat endemitas tinggi. Kekayaan bumi Indonesia tersebut menurut World Conservation Monitoring Commitee (1994) mencakup 10% dari seluruh spesies Tumbuhan berbunga di dunia, 12% dari seluruh spesies Mamalia di dunia, 16% dari seluruh spesies Reptil dan Amphibi di dunia, 17 % dari seluruh spesies Burung di dunia dan 25 % dari seluruh spesies Ikan di dunia. Potensi sumber daya alam Indonesia saat ini tidak kurang dari : 25.000 jenis flora dan 400.000 jenis fauna. Jenis-jenis tersebut antara lain : 5.000 jenis anggrek, 500 jenis paku-pakuan, 1.539 jenis burung, 500 jenis mamalia, 10.000 jenis pohon, 2.500 jenis moluska, 214 jenis krustacea, 3.000 jenis ikan, 6 jenis penyu, 25 jenis Mamalia laut, Terumbu karang 450 jenis. 
(4) Potensi kawasan : Luas kawasan hutan yang mencakup sekitar 120, 35 juta hektar atau 62,6 % dari total luas daratan 192,16 juta hektar, yang terdiri atas hutan lindung, hutan produksi, dan hutan konservasi. Sedangkan kawasan konservasi yang telah ditetapkan sampai saat ini adalah 519 unit dengan luas total 28,16 juta hektar dengan perincian 50 unit Taman Nasional seluas 16,38 juta hektar; 119 unit Taman Wisata alam seluas 1,06 juta hektar; 21 unit Taman Hutan raya seluas 343.454 hektar; 14 unit Taman Buru seluas 219.392 hektar; 237 unit Cagar Alam seluas 4,73 juta hektar dan 77 unit Suaka Margasatwa seluas 5,42 juta hektar.
(5) Pembinaan habitat merupakan kegiatan untuk memperbaiki keadaan habitat guna mempertahankan keberadaan atau menaikan kualitas tempat hidup satwa agar dapat hidup layak dan mampu berkembang. 

HUTAN SEBAGAI HABITAT SATWA

Satwa liar dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik hutan maupun bukan hutan seperti tanaman perkebunan, tanaman pertanian (sawah dan ladang), pekarangan, gua, padang rumput, savana dan habitat perairan (rawa, danau, sungai, laut, terumbu karang dan estuaria). Jika ditinjau dari segi statusnya, habitat satwa liar ada terletak di dalam dan di luar kawasan konservasi. Indonesia telah menetapkan kawasan-kawasan konservasi dengan potensi keanekaragaman sumber daya alam hayati termasuk tumbuhan dan satwa liar yang tinggi, tetapi jumlah individu setiap spesies semakin menurun. Suplai makanan, air dan pelindung yang diperlukan satwa liar sepanjang tahun relatif tetap keadaannya yang berfluktuasi menurut musim adalah kualitasnya. Satwa liar mempunyai beberapa strategi untuk menyesuaikan dirinya dengan dinamika lingkungan hutan tropis seperti Indonesia., misalnya tercermin di dalam pola perkembangbiakan, pergerakan ataupun pola migrasi yang berkaitan erat dengan habitatnya. Banyak diantara satwa liar tersebut yang tidak mampu mempertahankan populasinya dengan semakin banyak tekanan dan perubahan habitat mereka. Sebagai salah satu habitat tumbuhan dan satwa liar, kawasan konservasi menjadi salah satu areal yang diharapkan mampu mempertahankan habitat dan populasi satwa liar terutama jenis-jenis satwa liar dilindungi dan terancam punah. 
PENGERTIAN DAN BATASAN 
Menurut UU Nomor 5 tahun 1990, habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. Habitat yang baik akan mendukung perkembang biakan organisme yang hidup di dalamnya secara normal. Habitat memiliki kapasitas tertentu untuk mendukung pertumbuhan populasi suatu organisme. Kapasitas untuk mendukung organisme disebut daya dukung habitat. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan atau di air, dan atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. Dalam hidupnya, masing-masing jenis satwa liar mempunyai kebutuhan yang berbeda, namun pada umumnya kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan pakan/satwa mangsa, air dan tempat berlindung dari panas dan pemangsa serta tempat untuk bersarang/berkembangbiak, berburu, beristirahat dan memelihara anaknya. Seluruh kebutuhan tersebut diperoleh dari lingkungannya atau habitat dimana satwa liar hidup dan berkembang biak. Dilihat dari komposisinya di alam, habitat satwa liar terdiri dari 3 (tiga) komponen utama yang satu sama lain saling berkaitan, yaitu: 1. Komponen biotik meliputi: vegetasi, satwa liar, dan organisme mikro. 2. Komponen fisik meliputi: air, tanah, iklim, topografi, dll. 3. Komponen kimia, meliputi seluruh unsur kimia yang terkandung dalam komponen biotik maupun komponen fisik. Secara fungsional, seluruh komponen habitat di atas menyediakan pakan, air dan tempat berlindung bagi satwa liar. Jumlah dan kualitas ketiga sumber daya fungsional tersebut akan membatasi kemampuan habitat untuk mendukung populasi satwa liar. Komponen fisik habitat (iklim, topografi, tanah dan air) akan menentukan kondisi fisik habitat yang merupakan faktor pembatas bagi ketersediaan komponen biotik di habitat tersebut. Di lingkungan dengan kondisi fisik yang ekstrim, aktivitas biologi relatif kurang berkembang, sedangkan di lingkungan yang kondisi fisiknya sesuai, interaksi dalam ekosistem, habitat secara efektif akan membatasi pertumbuhan populasi satwa liar. Suatu habitat yang digemari oleh suatu jenis satwa belum tentu sesuai untuk kehidupan jenis satwa yang lain karena pada dasarnya setiap jenis satwa memiliki preferensi habitat yang berbeda-beda. Berkurangnya/terancamnya habitat disebabkan karena beberapa faktor. Ada tiga faktor utama yang dinilai sangat mempengaruhi terhadap perubahan habitat, yaitu: 1. Aktivitas manusia Aktivitas manusia merupakan faktor penyebab tertinggi bagi kerusakan dan kehilangan habitat satwa liar. Maraknya illegal logging, perambahan,kebakaran, pengalihfungsian kawasan hutan menjadi areal perkebunan, pertambangan dan lain-lain, membuat habitat satwa liar menjadi semakin tersudutkan dan terancam punah. 2. Satwa liar Perubahan habitat yang disebabkan oleh satwa liar sangat sedikit, biasanya dipengaruhi oleh kondisi satwa itu sendiri, seperti ; persaingan dalam memenuhi pakan, wilayah jajahan, pasangan, kemampuan bertahan dari serangan satwa lain, penyakit, pengembalaan ternak di dalam kawasan hutan, serta penurunan kerapatan populasi predator sebagai pemangsa, maka populasi pemangsa akan meningkat hingga melebihi daya dukung habitatnya sehingga kondisi ini akan merusak habitat. 3. Bencana alam Faktor bencana alam merupakan faktor penyebab dapat menimbulkan kehilangan habitat yang sangat luas, seperti ; banjir, longsor, gunung meletus, kemarau panjang, dan lain-lain. Dengan demikian maka diperlukan bantuan manusia agar habitat yang rusak tersebut dapat berfungsi kembali secara optimal. 
RUANG LINGKUP PENGELOLAAN SATWA LIAR 
Pengelolaan satwa liar adalah ilmu dan seni dalam mengendalikan karakteristik habitat dan populasi satwa liar serta aktivitas manusia untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Secara umum tujuan pengelolaan satwa liar adalah: • Mempertahankan keanekaragaman spesies. • Memanfaatkan jenis satwa liar tertentu secara berkelanjutan. Untuk dapat melakukan pengelolaan satwa liar diperlukan pengetahuan mengenai biologi, ekologi dan perilaku satwa liar. Satwa liar di alam berinteraksi dengan lingkungan atau habitatnya, baik komponen biotik maupun abiotik. Kondisi lingkungan yang sehat akan mendukung pertumbuhan populasi satwa liar hingga mencapai batas maksimum kemampuannya. Populasi satwa liar di alam dapat naik turun, atau stabil. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas), imigrasi dan emigrasi. Selain itu dipengaruhi juga oleh faktor-faktor ekologis habitatnya, yaitu: ketersediaan pakan, air, tempat berlindung, perubahan vegetasi, iklim, pemangsaan, penyakit, bencana alam, dan aktivitas manusia (vandalisme). 
PEMBINAAN HABITAT SATWA LIAR
Dalam pembinaan habitat satwa liar ada tiga komponen utama yang satu sama lain saling berkaitan, yaitu: komponen biotik (meliputi: vegetasi, satwaliar, dan organisme mikro), komponen fisik (meliputi: air, tanah, iklim, topografi, dll.) dan komponen kimia (meliputi seluruh unsur kimia yang terkandung dalam komponen biotik maupun komponen fisik). 1. Pengelolaan Pakan Berdasarkan jenis pakan dan kebiasaan makannya maka satwa dapat dibedakan sebagai satwa pemakan buah dan biji (frugivor), rumput, daun, pucuk (herbivora), pemakan serangga (insectivor), pemakan daging (karnivora) dan pemakan segalanya (omnivora). Upaya dalam pengelolaan pakan biasanya berupa peningkatan kualitas dan kuantitas. 2. Pengelolaan Air Untuk memenuhi kebutuhan satwa akan air untuk minum, berkubang, dll selain memanfaatkan air bebas dari alam (sungai, air hujan, embun dan sumber-sumber lain) diperlukan sarana tambahannya. Misalnya, pembuatan tempat minum, pembuatan kubangan dan kontrol terhadap kualitas air. 3. Pengelolaan Pelindung (Cover) Kebutuhan perlindungan dari terik matahari, hujan dan pemangsa, sangat dibutuhkan satwa. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang pola penggunaan ruang setiap spesies satwa. Pengelolaan cover berkaitan erat dengan pengaturan vegetasi. Selain itu perlu diketahui juga tentang preferensi habitat setiap spesies satwa. Kegiatan yang mungkin dilakukan dalam pengelolaan pelindung misalnya peningkatan jumlah pohon peneduh yang dibutuhkan oleh satwa. Dalam perbaikan habitat memerlukan pengkajian terhadap aspek penyebab kerusakan habitat dan daya dukung habitat yang dibutuhkan oleh setiap satwa. 
TAHAP-TAHAP PEMBINAAN HABITAT
Beberapa kegiatan dasar pembinaan yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan pembinaan habitat dan populasi satwa, yaitu : 1. Kegiatan tersebut harus didasarkan pada studi yang dilakukan secara bertahap yang diawali dengan inventarisasi dan sensus, dilanjutkan dengan analisa data dan penyusunan rencana pembinaan habitat dan populasi 2. Kegiatan harus layak dari segi teknis, sosial dan ekonomi serta layak dari segi lingkungan 3. Kegiatan diarahkan untuk mempertahankan kondisi alami dan menggunakan tumbuhan setempat bukan eksotik 4. Kegiatan harus disesuaikan dengan status kawasannya 5. Kegiatan tersebut perlu adanya monitoring dan evaluasi yang ditindak lanjuti berdasarkan hasil monev.
JENIS-JENIS KEGIATAN PEMBINAAN HABITAT
1. Pembinaan apabila populasi satwa kurang Kegiatan pembinaan habitat satwa liar yang dapat dilakukan bila populasi satwa kurang seperti : Reboisasi, pembuatan grazing ground (padang pengembalaan), pembuatan salt lick (garam jilat), penyediaan tempat minum, Pembuatan tempat berkubang, pembuatan tempat berlindung, pembuangan jenis eksotik dan kegiatan penambahan populasi. 2. Pembinaan apabila populasi satwa cukup Apabila dari hasil inventarisasi dan sensus satwa serta habitat satwa kondisinya masih baik, yaitu satwa masih dalam daya dukung kawasan dengan populasi yang stabil dan kondisi habitat yang masih baik, maka kegiatan yang perlu dilakukan adalah pengamanan kawasan yang difokuskan kepada kemungkinan terjadinya perburuan satwa dan perusakan habitat, serta pemeliharaan kesehatan satwa dan habitatnya terutama dari kemungkinan terjadinya penyakit menular. 3. Pembinaan apabila populasi satwa lebih Apabila pertumbuhan populasi satwa berlebih (over populasi) dalam suatu kawasan, perlu dilakukan kegiatan pembinaan habitat dan populasi dengan melakukan pengurangan populasi satwa yang ada. Kegiatan pengurangan satwa liar dilakukan dengan penjarangan dan pemeliharan kesehatan satwa. 
PENUTUP 
Kawasan konservasi sebagai kawasan yang di dalamnya terkandung berbagai hidupan liar, dan ekosistemnya berperan sebagai penyangga kehidupan dengan potensi keanekaragaman hayati yang tidak ternilai. Aktivitas manusia, satwa liar dan bencana alam dapat menyebabkan perubahan maupun kerusakan habitat satwa liar. Pembinaan habitat merupakan salah satu kegiatan pengelolaan satwa liar untuk memperbaiki keadaan habitat satwa liar guna mempertahankan keberadaan atau menaikan kualitas tempat hidup satwa agar dapat hidup layak dan mampu berkembang. Dalam pelaksanaannya, pembinaan habitat dilakukan dengan memperhatikan prinsip pokok konservasi yaitu pertimbangan ekologis, prinsip keterpaduan, efektifitas kegiatan, dan secara teknis dapat dikerjakan serta secara ekonomi dapat dilaksanakan.

Konservasi Alam dalam Kacamata Islam

Muqadimah 

Kawasan konservasi di SPTN Wilayah I
Alam dan lingkungan hidup tidak terpisahkan dari manusia. Dan peran manusia adalah sebagai sosok yang memakmurkan bumi termasuk memelihara alam dan lingkungan hidup. Secara ekonomis alam dan lingkungannya sangat berharga dan penting. Telah banyak dicatat kerugian yang diakibatkan kerusakan alam dan lingkungan, baik secara langsung seperti permbalakan liar (ilegal logging), maupun tidak langsung seperti sedimentasi di waduk ataupun bendungan yang membuat PLTA tidak beroperasi sehingga menurunkan daya listrik. Pada kondisi tertentu keadaan ini mengakibatkan pemadaman bergilir yang akhir-akhir ini sering terjadi. Dalam skala yang lebih luas, bumi terancam oleh pemanasan global dan efek rumah kaca yang dapat menenggelamkan pulau-pulau dan kota-kota tertententu di dunia. Berbagai tindakan telah dilakukan oleh negara-negara di dunia. Dalam Konverensi Tingkat Tinggi tentang lingkungan hidup di Kyoto, Jepang beberapa kesepakatan telah dicapai untuk mengurangi emisi setiap negara. Namun, Amerika Serikat tidak ikut menandatangani perjanjian penurunan emisi tersebut. Sebuah arogansi yang untuk kesekian kalinya ditampakkan. Dalam khasanah ilmu pengetahuan barat, konservasi merupakan cabang dari ilmu yang disebut ekologi. Ekologi berasal dari akar kata yang sama dengan ekonomi, yaitu oikos (rumah tangga). Sehingga ekologi adalah ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup, yaitu mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan bendabenda mati disekitarnya. Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan hidup adalah kewajiban, yaitu sebagai salah satu kewajiban manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Sehingga menjaga lingkungan hidup bukan hanya didorong oleh pertimbangan ekonomis semata. Di sinilah perbedaan pandangan hidup Islam dengan yang lain. 
Institusi Konservasi Dalam Syariat Islam  
1. Hima’ 
Hima’ adalah kawasan hukum dimana dilarang untuk diolah dan dimiliki seseorang (pribadi), sehingga ia tetap menjadi wilayah yang dipergunakan bagi siapapun sebagai tempat tumbuhnya padang rumput dan tempat mengembalakan hewan. Al Mawardi dalam Al Ahkaamus-sulthaaniyah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menetapkan suatu tempat seluas 6 mil menjadi hima’ bagi kuda-kuda kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Menurut As Suyuti dan para fuqoha, sebuah kawasan dapat menjadi hima’ dengan empat syarat, yaitu : 
  1. Ditentukan berdasarkan keputusan pemerintah 
  2. Dibangun berdasarkan ajaran Allah SWT – untuk tujuan-tujuan yang berkaitan dengan kesejahtraan umum 
  3. Tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat sekitar 
  4. Harus mewujudkan manfaat yang nyata bagi masyarakat 
Maka, hima’ adalah istilah yang paling tepat untuk mewakili istilah daerah konservasi dalam Islam. Berdasarkan kekhususannya ada 5 jenis Hima’ : 
  1. Wilayah dimana menggembalakan hewan tidak diperbolehkan 
  2. Wilayah dimana menggembalakan hewan diperbolehkan hanya pada musim tertentu 
  3. Wilayah perlindungan lebah; menggembalakan hewan dilarang pada musim bunga/semi 
  4. Wilayah hutan; dilarang menebang pohon 
  5. Wilayah suaka lingkungan untuk daerah/komunitas tertentu (kota, desa, dusun atau suku tertentu), misalnya hutan kota, hutan adat dll 
Hima’ – yang telah diakui oleh FAO – memiliki ukuran berbeda-beda. Hima’ Al- Rabadha, yang dibangun oleh Khalifah Umar ibn Khatan dan kemudian diperluas oleh Khalifah Utsman, adalah salah satu yang terbesar. Membentang dari Ar Rabadhah di barat Najd hingga ke daerah sekitar kampung Dariyah. Pada tahun 1965 ada kurang lebih 3000 hima’ di Arab Saudi. Sebagai peninggalan Islam, sampai sekarang banyak hima’-hima’ di Arab Saudi yang masih memiliki keanekaragaman hayati dan habitat-habitat biologi penting. 
2. Iqta 
Iqta merupakan lahan (garap) yang dipinjamkan oleh negara kepada para investor atau pengembang dengan pernjanjian kesanggupan untuk mengadakan reklamasi (perbaikan lahan yang digarap). Oleh karena itu dalam menggarap Iqta, harus ada jaminan tanggung jawab dan keuntungan baik untuk investor penggarap maupun untuk masyarakat sekitarnya. Apabila penggarap telah membangun lahan tersebut menjadi produktif, maka dia tidak bisa memindahtangankan lahan tersebut kepada orang lain. Apabila lahan tersebut selama 3 tahun ditelantarkan, maka penguasa negara bisa mencabut hak pakai penggarap lahan dan mengalihkannya kepada pihak lain yang ingin menghidupkan tanah tersebut. Lahan yang digunakan untuk Iqta adalah lahan yang di dalamnya tidak ada kepentingan umum, misalnya sumber daya air, kepentingan ekosistem dan tidak menimbulkan masalah baru bagi daerah sekitar pada masa penggarapan. Dalam kawasan tersebut juga harus dipastikan tidak terdapat sumber daya mineral atau keuntungan umum lain yang seharusnya dikuasai oleh pemerintah untuk kemaslahatan orang banyak. 
3. Harim 
Harim adalah lahan atau kawasan yang sengaja dilindungi untuk melestarikan sumber-sumber air. Harim dapat dimiliki atau dicadangkan oleh kelompok atau individu ataupun kelompok. Biasanya harim terbentuk bersamaan dengan keberadaan ladang dan persawahan, tentu saja luas kawasan ini berbeda. Di dalam sebuah desa, harim dapat difungsikan untuk menggembalakan hewan ternak atau mencari kayu bakar. Akses masyarakat ke tempat ini pun dimudahkan; dapat ditempuh tidak lebih dari satu hari pada hari yang sama. Yang penting dalam harim ini adalah adanya kawasan yang masih asli (belum dirambah), tidak dimiliki individu namun menjadi hak milik umum. Pemerintah dapat mengadministrasikan atau melegalisasi kawasan ini untuk keperluan bersama. Pada era Turki Utsmani harim digunakan untuk menunjukkan suatu area (di sekitar rumah) yang terlarang bagi laki-laki asing (untuk memasukinya). Kata harim sendiri berarti suatu hal yang pribadi, sangat dihormati dan dimulyakan. 
Ihya al-Mawat 
Tanah sebagai unsur lingkungan paling mendasar mendapat perhatian lebih dalam Islam. Semangat menghidupkan (Ihya) kawasan mati/tidak produktif (al mawat) merupakan anjuran kepada setiap muslim untuk mengelola lahan supaya tidak ada kawasan yang terlantar. Menghidupkan di sini termasuk juga menjaga dan memelihara kawasan tertentu untuk kemaslahatan umum dan mencegah bencana. Semangat menghidupkan lahan ini penting sebagai landasan untuk memakmurkan bumi. Tentu saja pemerintah dan perundang-undangan harus akomadatif dalam mengelola dan menerapkan peraturan pemilikan lahan secara konsisten. 
Daya Dukung Lingkungan 
Sumber daya alam yang ada sebenarnya telah disediakan oleh Allah SWT lebih dari cukup untuk semua makhluk di muka bumi, termasuk manusia. Namun, berbagai pelanggaran dan ketamakan membuat sumber daya yang ada rusak dan tidak terdistribusikan dengan baik sehingga tidak bisa dimanfaatkan dengan adil dan maksimal. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada termasuk air, hutan, tanah, minyak dan gas dll. Daya dukung lingkungan terhadap semua bentuk aktifitas manusia mesti diperhatikan. Daya dukung lingkungan adalah total potensi lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk aktifitas produktif. Misalnya, penggunaan tanah sebagai lahan penggembalaan seperti terlihat pada gambar 1, menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan yang baik akan tercapai pada tingkat penggunaan lahan sebesar 30 % – 70 % dari keseluruhan potensi yang ada. Dalam diagram 1, daya dukung lingkungan bisa digunakan hingga 100 %. Namun, bila digunakan maksimal hingga 100 % (Q1) maka kualitas lingkungan akan menjadi sangat buruk, karena lahan habis untuk penggembalaan, tidak ada saluran pengairan, putusnya rantai makanan karena species yang homogen dan akhirnya keseimbangan ekosistem pun rusak. sebaliknya. Sementara bila potensi lingkungan yang digunakan terlalu sedikit maka lahan yang ada tidak memberikan manfaat maksimal. Oleh karena itu, penggunaan potensi lahan hingga 50 % dipandang sebagai pemakaian maksimal. Dengan toleransi kerusakan yang maksimal yaitu pada angka 1. 
Penutup 
Syariat Islam mempunyai bentuk-bentuk dasar dan semangat konservasi yang jelas. Beberapa prinsip di atas dapat digunakan dalam usaha konservasi lingkungan dalam payung syariat Islam. Dewasa ini masalah konservasi lingkungan berkaitan dengan berbagai persoalan yang kompleks. Oleh karena itu, 3 institusi tadi harus didukung oleh konsistensi pemerintah menerapkan kebijakan ekonomi yang adil, karena lingkungan selalu jadi korban ketika ekonomi masyarakat terpinggirkan. Peran politik dan penegakkan hukum juga tidak boleh ditinggalkan, terutama ketika harus menekan perusahaan-perusahaan multinasional untuk memenuhi kewajiban mereka memperbaiki lahan dan lingkungan yang telah mereka eksploitasi. 
Daftar Pustka 
Al Mawardi. 2000. Al Ahkaamus-sulthaaniyah wal-wilaayatud-diiniyah. Terj. Jakarta. Gema Insani Pers 
Soerjani, Mohammad. 1987. Lingkungan: Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Jakarta. UI Pers 
Majalah Mangunjaya, Fachrudin Majeri. Lingkungan Hidup dan Konservasi Alam dalam Perspektif Islam. Majalah Islamia Vol. III No. 2

Explore to 3 Puncak Gunung Api

Pulau Ringgit, 10 April 2012 – 23.21 diposting melalui smartphoneku

Saat ini aku dilapangan, tepatnya di pulau ringgit atau julukan lain terhadap pulau una-una. Pulau yang terdapat gunung colo tersebut kini tanpa lampu dengan penghuni kurang lebih 200 kk. 

Kawah Gunung Colo

Kali ini kami berdua dengan mas wawan melaksanakan dua kegiatan yang dirangkum menjadi satu sudah begitu dengan dana oprasional memadai dari negara tentunya tapi sesuai intruksi dan perintahj kepala seksi kami cuma melaksanakannya berdua dengan alasan biar kami bisa memininalisir anggaran sehingga hasil akhirnya terdapat banyak sisa. Yah seperti itulah kondisi abdi negara seperti kami dalam melaksanakan perjalanan dinas. Ya Allah semoga apa yang aku beri ke istriku disana bersifat halal. Walaupun nuraniku teriak sepertinya aku sudah asik dengan “budaya” seperti ini tanpa merasa risih dengan sistem yang ada kendatipun saat-saat seperti ini aku harus turun langsung ke lapangan dibandingan dengan teman-teman kantor yang lain. Sok suci… Entahlah? 

Kemarin tepat tanggal 6 April aku dan mas wawan menaklukkan 3 gunung berapi di pulau ini. Yaitu gunung sakora, gunung ambi dan gunung colo. Luar biasa pengalaman yang kami dapatkan mulai dari perjalanan yang setealh aku perhatikan di alat GPS ternyata sejauh 17,97 km jalan kaki, menuruni tebing yang curam dibawah jurang secara penglihatan tertutup oleh daun pakis hingga hal-hal mistis dari gunung tersebut yang aku tak bisa jelaskan secara mendetail melalui coretan ini. Luar biasa pengalaman yang kami dapat yang berakhir pada rekor baru dalam perjalanan petualanganku menaklukkan tiga gunung dalam sehari penuh.
Perjalanan kami berawal dari dusun una-una stap dengan menggunakan kederaan bermotor berupa sepeda motor kami menelusuri pinggiran pantai layaknya pembalap trail dengan kondisi lumpur, melewati jembatan pohon kelapa dan naik turun bukit. Seruu… Sesampai disungai besar sepeda motor kami tak mampu melanjutkan perjalanan yang memaksa kami dan tim terdiri dari mas wawan, si feri (pamhut) dan raden (penunjuk jalan) harus berjalan kaki. 
Perjalanan kami dimulai dengan menelusuri sungai besar. Subhannallah… Maha besar Allah… Luar biasa alam… Dan begitu kecilnya manusia ketika itu dalam benakku. Bekas letusan gunung Colo tahun 1983 masih saja meninggalkan bekas mulai dari tekstur tanah hingga ketinggian tebing serta kedalaman jurang yang kami tempuh membuat kesimpulan dikepalaku bahwa manusia sungguh tak berdaya. Yaa… Kami kecil!
Sesampai dipuncak hal paling menegangkan selama pengembaraanku menelusuri gunung adalah ketika kami harus melewati tebing yang dibawah jurang tetapi untungnya secara psikologis tak membuat kami takut karena tertutup oleh semak pakis-pakisan yang menghalangi dasar jurang. Ketika itu kami melintasi tebing tanpa alat sedikitpun, hanya mengandalkan keterampilan sebagai manusia biasa yang minim pengalaman. Sampai-sampai ketika itu aku dan mas wawan gemeteran saking gugupnya harus melintasi tebing itu. Setelah kami sanggup melalui tebing, kami pun melanjutkan perjalanan. Perjalanan beberapa meter kedepan dan kami harus menuruni jurang dengan ketinggian kurang lebih cuma 10 meter. Aku sebagai ketua tim langsung memutuskan untuk beristirahat sebentar berhubung perut kami sudah keroncongan makanya harus makan dengan bekal yang kami bawa. Makanan pada saat itu setiap orang tidak memakannya sampai habis tetapi disisakan sedikit untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yaitu harus bermalam di gunung itu.

Si Feri pamhut kami yang “masih” rajin karena baru saja diangkat sebagai “honorer” di Taman Nasional mengambil inisiatif menebang kayu besar untuk dijadikan tangga menuruni jurang tersebut. Dan idenya ternyata cemerlang. Ketika itu layaknya seorang peserta diklat polhut di Lido kami melakukan gaya “flaying fox” bukan menggunakan tali tapi kali ini menggunakan kayu yang berujung pada kemaluan aku yang sakit karena gesekan. Akhirnya kami berhasil menuruni jurang tersebut dengan kemiringan 90 derajat. Perjalananpun dilanjutkan dan beberapa meter kedepan kami mendapatkan jurang yang lebih curam lagi hingga memutuskan kami untuk kembali dan berbalik arah.

Sementara kondisi kami yang mulai “drop” kami harus menemukan jalan keluar dari puncak gunung ambu tersebut. Kami menenangkan diri tepat dipuncak gunung yang dimana kiri kanan kami adalah jurang. Tempat kami berisitirahat adalah puncak, dengan lebar jalan setelapak kaki kami hingga bergerak sedikit menyebabkan kami jatuh mengelinding ibarat bola, sudah seperti itu semutpun mengerumuni kaki kaki kami. Luar biasa…
Menghabiskan rokok beberapa batang kamipun melanjutkan perjalanan hingga mendapatkan jalan keluar yang lumayan terjal saat itu sendal gunung yang aku gunakan putus memaksaku jalan dengan kaki tidak normal. Dalam benakku saat itu menyerah karena kondisi alam dan kondisi badan yang sudah tidak stabil, kepala semakin pusing mungkin karena kekurangan oksigen dan kaki yang sudah lecet. Sama seperti mas wawan. Ingin menyerah saja. Dengan terpingkal pingkal akhirnya kami bisa turun dan mendapatkan sungai dibawah, saat itu terjadi penyesalan karena kami salah arah. Danau gunung colo ternyata berada dikaki gunung sebelah. Semakin droplah kami semua. Sudah hampir sore, aku memutuskan agar tim pulang karena berhubung perlengkapan kami kurang memadai untuk melakukan pendakian malam. Sesampai ditepi sungai kami balik arah pulang dan sekitar jam 6 sore kami tiba dititik koordinat awal tempat dimana motor kami diparkir. Sungguh luar biasa….

Besok pagi kami berencana pulang ke Wakai dengan menumpang kapal penumpang pukul 7 hari rabu 11 April 2012. Ditemani suara ombak terdengar disini, dilantai 2 penginapan masyarakat yang kami tinggali membuat sebenarnya seseorang bisa tidur lelap dengan kondisi badan yang pegal-pegal karena pendakian kemarin tetapi tidak pada diriku. Aku hanya menginggat istriku yang jauh di Sumatera sana sembari membuat tulisan ini di smartphone yang aku miliki tanpa sinyal sedikitpun. Aku merindukannya dari Pulau ini. Una-una Island… Pulau yang kaya dengan hasil alamnya.

Konservasi Tradisional ala Masyarakat Dayak

Praktik konservasi tradisional tentu saja tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan asli masyarakat sekitar hutan karena berdasarkan pengetahuan asli itulah masyarakat mempraktekkan kaidah-kaidah konservasi. Hingga saat ini istilah konservasi tradisional belum banyak diuraikan secara jelas, Meskipun telah lama menjadi obyek studi antropologi. 

Konservasi tradisional pada dasarnya merupakan suatu sistem pengetahuan yang diperoleh dari interaksi manusia dengan lingkungan serta seluruh aspek kebudayaan. Sistem ini merupakan rangkaian pengalaman manusia, termaksud bahasa, sejarah, seni, politik, ekonomi, administrasi, psikologi serta aspek-aspek teknis lainnya seperti perikanan, pertanian, kesehatan, pengelolaan sumberdaya alam dan sebagainya. Sistem ini menjadi basis untuk pengambilan keputusan dan menjadi substansi pendidikan pada masyarakat tradisional. 

Sistem ini sama sekali tidak serius, seperti anggapan banyak orang. Sistem ini berkembang terus menenrus akibat interaksi dengan sistem-sistem pengetahuan dari luar, dan kemudian membentuk sebuah keseimbangan baru yang diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan hidup masyarakat dan lingkungan sekitarnya, termaksud teknologi dari luar. 

Dengan demikian konservasi tradisional meliputi semua upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam oleh masyarakat tradisional baik secara langsung ataupun tidak langsung, telah mempraktikkan kaidah-kaidah konservasi dalam pengelolaan sumberdaya alam guna kelestarian pemanfaatannya. Praktik-praktik tersebut umumnya merupakan warisan nenek moyang mereka, yang bersumber dari pengalaman hidup yang selaras dengan alam. Praktik-praktik pengelolaan sumberdaya alam oleh masyarakat tradisonal yang memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian tersebut kemudian dikenal sebagai kearifan lokal setempat. 

Konservasi dan kearifan lokal selama ini selalu mendeskreditkan masyarakat tradisional, masyarakat seakan dikambing hitamkan sebagai penyebab kerusakan hutan. Contoh yang paling jelas adalah program pemukiman kemabali (resettlement) suku-suku terasing yang kini telah dihentikan. Kegagalan proyek ini di Kalimantan banyak disebabkan karena ketidakmampuan menilai fungsi social-ekonomi dari rumah betang (rumah panjang tradisional suku dayak) yang ternyata erat kaitannya dengan sistem pengelolaan ladang dan sistem pembagian kerja yang disebut beruduk atau besaup. Sistem ini setiap kelompok kerja antar keluaga dipehitungkan secara cermat. Kerja-kerja kelompok juga dilakukan untuk mengantisipasi resiko dari kegagalan panen. Apabila ada disatu keluarga dalam satu rumah panjang tradisional mengalami kegagalan panen maka keluarga lain siap membantu.


| viqarchu, 2012 |

Tips Memasuki Hutan

Berekspresi dalam hutan

Berkegiatan alam bebas, utamanya para penyuka pendakian gunung ataupun hiking, pasti akan mudah sekali memasuki kawasan hutan, karena itu adalah bagian dari alam bebas yang harus di temui. Banyak dari para petualang yang tersesat ataupun mengalami hal- hal yang tak diinginkan saat telah berada di dalam hutan, seperti tersesat ataupun terkena aneka penyakit yang disebabkan oleh “penunggu dan penjaga” hutan. Berikut ini tips sebelum memasuki hutan, semoga bermanfaat. 

Hutan, baik geografis atau tipologis, memiliki keadaan dan tantangan lingkungan berbeda. Keadaan alam liarnya menjadi daya tarik para penikmat alam. Bagaimanapun alasannya, kehidupan di alam bebas memiliki berbagai kemungkinan dan keadaan tidak menentu. Mulai dari kondisi tanah, cuaca, hewan, tumbuhan, air terbatas, terutama kemampuan adaptasi manusia. Pengetahuan keadaan tak menentu ketika berada di alam bebas, disebut jungle survival , sangat dibutuhkan para petualang walau sekadar menyalurkan hobi. Kemampuan diri sangat menunjang keselamatan, sekaligus agar wisata alam liar kita berjalan baik. 


1. Siapkan perbekalan sesuai kebutuhan. Rencanakan kegiatan dan ikuti prosedur yang berlaku. Tetap berkelompok, jangan mengasingkan diri. 

2. Siapkan sikap dan mental. Jangan mudah panik, disiplin, berpikir jernih, dan optimis agar selalu waspada dan membuat keputusan dengan tenang. Siapkan keyakinan dan kepercayaan diri. Miliki kemampuan belajar dari pengalaman dan alam sekitar, pengetahuan lingkungan rimba, laut, serta pengetahuan cukup pada biologi dan ekologi. 

3. Pelajari tumbuhan yang bisa dikonsumsi dan dijadikan obat. Konsumsi tumbuhan yang sudah dikenal dan masak lebih dahulu agar aman. Jangan mengkonsumsi tumbuhan dengan warna yang menyolok ( biasanya putih atau kuning ), berbau tidak enak, dan tidak memiliki getah susu. Biasanya tumbuhan berbahaya hidup menyendiri, berduri dan pahit. Tumbuhan yang bisa dikonsumsi, di antaranya : gadung ( Uwi, dioscorea hispida ), buah senggani ( harendong, malastoma polyantum ), sintrong atau gynura arrantiaca, rebung bambu, pisang, jamur kuping, dan jamur tiram. Sebagai saran, jadikan kelapa sebagai menu utama agar aman untuk bertahan hidup. 

4. Ketahui tumbuhan obat sebagai pengobatan pertama ( P3K ). Simplisia nabati atau tumbuhan obat banyak hidup di alam Indonesia. Biasanya diketahui dari mulut ke mulut dan menjadi obat tradisional masyarakat. Beberapa tumbuhan obat yang biasa digunakan di antaranya: Daun kaki kuda atau antanan untuk obat sariawan, batuk, sakit perut. Daun dan biji muda kaliandra bisa digunakan untuk obat sariawan. Daun sembung manis untuk sakit perut dan panas. Ki Urat, numpong, getah kamboja untuk mengobati luka, bengkak, keseleo. 

5. Hati – hati dengan beberapa tumbuhan di bawah ini, terutama jika kontak langsung dengan bagian tubuh Anda. Di antaranya: Pulus atau kemadu, ingas atau rengas, raweh atau rarawean, dan buah aren mentah, yang akan menimbulkan iritasi kulit, gatal-gatal, kulit panas dan bengkak. Biji jarak membuat kepala pusing, mencret, selalu buang air besar, dan muntah – muntah. Bunga dan daun kecubung, jamur psilocybe sp dapat menimbulkan halusinasi. Seluruh bagian pohon picung atau pangi dan jamur amanita verna sangat beracun dan mematikan. 

6. Ketahui jenis hewan yang bisa dijadikan makanan. Pelajari habitat, bentuk fisik, makanan, pola tingkah hewan itu, dan cara menangkapnya. Hewan lebih sulit ditemukan daripada tumbuhan sebagai sasaran makanan. Sebagian besar binatang liar bisa dikonsumsi. Tetapi hindari hewan yang memiliki duri, memiliki alat penyengat, berwarna menarik dan menyolok, dan serangga yang memiliki bulu. Sebagai saran, berburu ikan itu lebih aman. 

7. Sebaiknya hindari beberapa hewan di bawah ini. Karena mengandung racun dan berbahaya bagi keselamatan manusia. Di antaranya: Nyamuk agas, biasa hidup bergerombol di rawa dan rimba. Nyamuk malaria, penyebab penyakit malaria. Gigitan semut api yang biasa merayap di tanah dan dedaunan, membuat panas dan gatal pada kulit. Sengatan lebah atau tawon, kalajengking, lintah atau pacet, dan kelabang. Terutama hindari kontak dengan harimau, macan, ular, dan buaya. 

8. Jagalah kaki tetap kering, karena beresiko infeksi jika basah terlalu lama disebabkan air yang tidak higienis. Konsumsi air jernih dan telah dimasak. Jika terpaksa minum air mentah, maka gunakan daun lebar untuk mengumpulkan air hujan atau embun. Potongan bambu biasa digunakan untuk menampung air hujan. 

9. Gunakan kayu bakar dari pepohonan dan tumbuhan yang mengandung terpetin, seperti ranting kering, kayu kering, getah pohon pinus, dan getah pohon damar. Buatlah api untuk penerangan, penghangat, memasak, penghilang takut, menghindari hewan buas, dan sebagai alat isyarat bagi orang lain. 

10. Jika anda tersesat, usahakan kembali ke jalur semula. Gunakan tanda sebagai jejak ketika telah melewati jalur tertentu, di ranting, pohon, atau tanah. Berjalanlah di punggung gunung, biasanya jalur daki menggunakan punggungan sebagai jalur. Hindari jalur lembah yang akan membuat anda sulit dilihat orang lain. Turunlah ke sungai hanya untuk mengambil air, karena binatang liar menjadikan sungai sebagai sumber kehidupan mereka. 


Itulah tips sebelum memasuki hutan, semoga bisa di terapkan. Tentu banyak hal yang tak disebut di atas bisa terjadi secara mendadak, karena alam tak bisa di tebak, silahkan dalami dan lebih berhati – hati. Selamat berpetualang!

| belantaraindonesia |

Monyet Karimunjawa (Macaca fascicularis karimoenjdawae) di Taman Nasional Karimunjawa (TNKj)

Pagi itu, jarum jam sudah menunjuk angka enam. Sedikit bergegas, kami mulai berkemas: kamera, baterai cadangan, binokuler dan sebotol air sudah memenuhi ransel. Berjalan kaki selama hampir 45 menit, menyusuri pantai timur Pulau Karimunjawa, sampailah kami di sebuah teluk. Deretan hutan mangrove menjadi penanda perjalanan kami akan berakhir. Hembusan angin musim timur mengiringi langkah kami ke Dusun Legon Lele. 

Dari jauh nampak segerombolan monyet turun dari pohon kelapa, beberapa masih bersembunyi, seperti barisan tentara mengintai lawan. “Krra, krra, krra, krra!” Suara dari Macaca itu untuk mendeteksi keberadaan kelompoknya. Kehadiran kami bukan ancaman bagi mereka. Sambutan yang menggembirakan, bisik kami dalam hati. Di hadapan kami, Macaca fascicularis karimondjawae, berjarak hanya 300 meter dari tempat kami berdiri. Perlahan, kami menyiapkan kursi lipat hitam, binokuler dan tripod menjadi alat bantu mengamati satu-satunya primate penghuni pulau ini. 

Satwa yang sedang menyantap buah kelapa itu satu dari empat subspesies yang hidup di pulau-pulau kecil di Indonesia. Tiga lainnya: Macaca fascicularis fuscus hidup di Pulau Simeulue, Sumatera; Macaca fascicularis lasiae di Pulau Lasia, Sumatera; dan Macaca fascicularis tua di Pulau Maratua, Kalimantan. Macaca fascicularis, monyet! asli! Asia Tenggara, tersebar di berbagai tempat di Asia: Semenanjung Myanmar, Thailand, Malaysia, Indocina bagian selatan, Filipina, Sumatera, Jawa dan Kalimantan. 

 Monyet ini termasuk hewan liar yang mampu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Macaca secara umum masih aman, bukan termasuk satwa yang dilindungi. Namun, lantaran perburuan yang terus terjadi, pemanfaatan Macaca fascicularis diatur dalam keputusan Menteri Kehutanan No. 26/1994. Monyet jantan memiliki panjang tubuh antara 385-648 mm dengan berat 3,5 – 8 kg, sedangkan betina 400-655 mm dengan berat 3 kg. Warna tubuh bervariasi: mulai dari abu-abu sampai kecoklatan, dengan bagian ventral berwarna putih. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. 

Anak Macaca yang baru lahir berambut kehitaman. Ekor yang melebihi panjang tubuh bermanfaat bagi monyet ekor panjang untuk menjaga keseimbangan saat beraktivitas di cabang kecil. Ciri khas monyet ras karimondjawae terdapat pada bagian atas kepala yang nampak seperti jambul. Pulau Karimunjawa, dengan ketinggian 506 meter di atas permukaan laut, menjadi habitat yang sesuai bagi primata ini. Hutan sekunder dengan tanaman Uyah-uyahan (Chionanthus rami!orus), Jambon lapis (Sizygium pycnatum), Jambon pletik (Sizygium syzygioedes) menjadi sumber pakan bagi monyet pemakan segala (omnivora) ini. Komposisi pakan monyet: 60 persen buah-buahan, dan selebihnya berupa bunga, daun muda, biji, umbi.

Monyet ekor panjang terkadang turun sampai ke formasi mangrove yang berbatasan langsung dengan hutan hujan tropis di Taman Nasional Karimunjawa. Selain di Legon Lele, penduduk sekitar kawasan sering menjumpai si monyet di Kemloko, Legon Boyo, Cikmas, dan Nyamplungan. Sebaran satwa yang masih berkerabat dengan beruk mentawai dan monyet hitam sulawesi ini dapat juga dijumpai pada formasi mangrove di Legon Jelamun, Pulau Kemujan. Monyet yang hidup di daerah bakau terkadang memakan kepiting atau jenis moluska lain. Tak mengherankan, beberapa peneliti menyebutnya dengan macaca pemakan kepiting—crabs eating macaque. Primata ini hidup berkelompok dengan jumlah individu berbeda di setiap kelompok. Pada hutan bakau umumnya berjumlah 10-20, sedangkan pada hutan primer bisa mencapai 20 – 30 ekor. Di Karimunjawa lebih sering dijumpai kelompok kecil, 10 – 20 ekor. Besar kecilnya kelompok tergantung pada ada tidaknya sumber pakan yang tersedia di alam. Penggabungan kelompok dapat terjadi bila jumlah pakan yang tersedia lebih dari cukup. Perkiraan populasi monyet ekor panjang dalam kawasan dengan luas 1.285,5 hektare ini mencapai 267 ekor. Monyet ekor panjang dapat bertahan hidup selama 37 tahun dengan masa hamil antara 160-170 hari. 

Macaca bergerak dengan empat anggota badannya, dia bisa melakukan loncatan mencapai 5 meter. Jelajah harian satwa endemik Karimunjawa ini 1.500 meter, mulai dari 10-80 hektare di hutan primer dan 125 hektare pada hutan bakau. Sumber pakan yang tersebar pada habitat alami menjadi faktor pendorong luasnya daya jelajah macaca. Macaca mulai beraktivitas ketika matahari terbit hingga terbenam. Di siang hari ini, saat melintasi perbatasan hutan Legon Lele dengan rumah penduduk, gerombolan macaca sedang berlompatan atau sekedar bermain dengan anakanaknya. 

Untuk bisa mengamati macaca, selalu perhatikan jarak agar dia tidak terganggu dengan kehadiran kita. “Krra!”, suara yang sempat terdengar tadi merupakan cara macaca untuk mendeteksi keberadaan kelompok. Macaca mengeluarkan suara keras dan melengking (onomatopoeic) ketika merasa terancam. Kemarin sore, dua orang pria setengah baya menyambangi asrama kami. “Pak, piye iki omahku rusak disawati monyet,” seru pria itu berapi-api. Eternit rumahnya pecah, jam dinding rusak, anak balitanya terluka karena dilempar bola lampu oleh monyet yang merangsek masuk ke lahan dan rumahnya. 

Kami sangat memahami keluhan dari warga Legon lele ini. Kebun warga dengan jenis tanaman: mangga, jambu mete, jambu biji, pisang, jengkol, nangka, ketela rambat, singkong uwi dan gembili, menarik monyet ekor panjang. Ya, konfik seperti ini acap kali terjadi dalam enam bulan terakhir. Tiga laporan serupa kami terima dari warga. Pengecekan lokasi, untuk mengetahui kerusakan dan upaya mengantisipasi perburuan liar menjadi tugas kami untuk meminimalkan ketegangan akibat ulah sang monyet.

Meskipun bukan! satwa yang dilindungi bukan berarti monyet ekor panjang bisa dengan bebas diburu akibat ulahnya itu. Perebutan ruang antara manusia dan satwa menjadi tantangan dalam pengelolaan satwa ini. Lembaga dunia IUCN yang menentukan tingkat kelangkaan satwa pun tidak memasukkan jenis ini dilindungi. Data de”cient, status yang disandang monyet khas Karimunjawa menunjukkan masih banyak celah untuk mengkajinya dalam hal sebaran, ekologi dan populasi.


Susi Sumaryati

Monyet Togean (Macaca Togeanus) : Endemik di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean yang terancam punah

Indonesia termasuk salah satu negara “Mega Biodeversity” karena memiliki jumlah species yang sangat tinggi di Dunia. Bahkan Indonesia telah mengeluarkan sebuah dokumen Indonesia Biodiversity and Action Plan (IBSAP) yang disusun oleh proses kolaboratif yang cukup lama karena diperlukan pemahaman yang menyeluruh tentang keanekaragaman yang dimiliki. Salah satu keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia adalah Monyet Togean (Macaca Togeanus) yang hanya terdapat di Pulau Malenge Kecamatan Walea Kepulauan Kabupaten Tojo Una-una Provinsi Sulawesi Tengah yang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 418/Menhut-II/2004 merupakan kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean.

Macaca togeanus atau dalam bahasa lokalnya monyet togean atau monyet fonti merupakan sub spesies dari monyet bonti yang di penyebarannya hanya ditemui di Pulau Malenge secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Walea Kepulauan Kabupaten Tojo Una-una dengan luas wilayah 12,21 KM2 yang merupakan satu gugusan pulau yang terletak disebelah utara Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean. 

Morfologis Macaca Togeanus
Ciri morfologis monyet togean yaitu bagian kaki dan tangannya berwarna putih, kepala berjambul, pada pipi muka ditumbuhi rambut, warna kulit hitam, rambut yang tumbuh disisi muka berwarna kecokelatan, rambut dibawah leher berwarna abu-abu terang hingga keputihan dengan panjang tubuh antara 502 – 584 mm, panjang ekor 40 – 50 mm serta berat tubuh jantan dan betina hampir sama 10 – 12 Kg. 

Monyet Togean dapat dikenali dari suaranya pada saat menjelajah, individu jantan seringkali mengeluarkan suara lemah dan bergetar (pi…pi…pi…) dan terulang-ulang, bila merasa terancam suara yang dikeluarkan akan lebih keras. 

Hutan yang merupakan habitat alami satwa ini telah mengalami degradasi. Selain karena alih fungsi hutan menjadi areal pertanian penduduk, penebangan liar yang terus marak juga diakibatkan oleh kebakaran besar yang terjadi pada tahun 1998 yang menghabiskan sekitar 50% hutan primer yang merupakan habitat alami monyet togean. Suksesi tegakan setelah 13 tahun hanya menyisakan belukar. Pohon yang merupakan pakan monyet togean seperti Ficus, Eugenia, Pangium edule, Manilkara kauki, Mangifera foetida banyak yang musnah. 

Perubahan habitat yang terjadi juga mempengaruhi pola konsumsi monyet togean dari yang semula hanya mengkonsumsi bunga, buah dan daun di hutan menjadi hama bagi petani kelapa di pulau Malenge karena satwa ini terkadang mengkonsumsi buah kelapa utamanya buah kelapa yang masih muda sehingga masyarakat memburu secara liar. Perburuan dilakukan dengan mengunakan jerat dan racun. Ketika masyarakat memburunya menggunakan racun, tidak lagi efektif karena satwa ini telah resiten dengan racun dalam hubungannya dengan kebiasaan monyet togean sering mengkonsumsi air kelapa sehingga tubuhnya kebal terhadap racun. 

Perkebunan kelapa merupakan habitat ideal bagi monyet Togean, apalagi dengan struktur tajuk yang saling bersentuhan sangat memudahkan monyet Togean untuk melakukan aktivitas pencarian pakannya, dengan habitat alami hutan primer dan sekunder di pulau Malenge yang telah rusak maka tak ada pilihan lain bagi satwa untuk mempertahankan hidup kecuali masuk ke perkebunan milik penduduk. 

Kini monyet togean (macaca togeanus) yang endemik di dunia tersebut dapat dihitung jari keberadaan dihabitat aslinya pulau Malengge, program-program konservasi yang telah dilakukan oleh pihak Taman Nasional Kepulauan Togean misalnya pengawasan dan perlindungan populasi satwa, inventarisasi pakan monyet togean, dan sosialisasi kemasyarakat disekitar habitat aslinya tersebut telah dilakukan. Lagi lagi hal ini tidak akan berpengaruh secara signifikan ketika kesadaran masyarakat itu sendiri yang harus ditingkatkan.




*Tulisan ini telah terpublikasikan*
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.